Matahari mulai meredupkan cahayanya, meninggalkan warna Oranye yang hangat di kota itu.
Satu persatu murid mulai merapikan buku dan alat tulis mereka, lalu melangkah keluar dari kelas itu.
Caelus menyampir tas nya di bahu, lalu mulai bangkit dari kursinya.
“Gw duluan ya, Ren.”
“Cael, bentar.”
Sahut Kirene sambil memasukkan buku.
Caelus menoleh ke arahnya.
“Kenapa?”
Kirene beranjak dari kursinya, dengan senyum tipis tertuju ke arahnya
“Udah, yuk.”
Tatapan Caelus berpindah ke rappa.
“Rap, gw duluan- lah…”
Rappa menoleh ke belakang, dengan posisi sudah jongkok di jendela kelas itu.
“Yo, lu tiati, mau malem.”
Acheron hanya berdiri menatapnya, tanpa berkata apapun.
Caelus menggaruk kepalanya.
“beneran… Lewat jendela?”
“setiap hari.”
Balas acheron dengan datar.
Caelus menggeleng kepalanya pelan, lalu memandang Kirene.
“ Oke… yok, ren.”
Mereka mulai melangkah keluar dari kelas itu.
Lorong sudah di penuhi dengan murid yang tak langsung pulang ke rumah mereka.
Obrolan dan candaan memenuhi tempat itu.
Caelus berdesis pelan, sambil memegang tengkuknya.
“Set dah… masih rame.”
“Ren, ke kantin dulu mau gak?”
Tanya Caelus dengan tatapan masih terpaku di depan.
Kirene tidak menjawab.
Atau… suaranya teredam?
“Kirene?”
Caelus berdecak kecil, lalu menoleh ke belakang.
“Ren, lu ngapain-”
“Siapa Tuhanmu…”
Sela kaslana dengan nada berat.
Caelus menatapnya datar “Lu ngapain coba,”
Tatapannya lalu berpindah ke Kirene.
“Daritadi kenapa diem, ren?”
“ disuruh diem sama kaslana, pake bahasa isyarat.”
Jawab Kirene sambil menempel jari telunjuknya ke mulut.
Kaslana tertawa kecil.
“Ga asik jir respon nya.”
Caelus menghela nafas pelan.
“Ngapain emang? Biasanya dateng gini ngajak ke kantin, terus gw yang bayar.”
“Engga lah, besok kita ke rumah lu ya, kan ada tugas kerja kelompok tuh.”
Caelus menurunkan satu alisnya.
“Dari semua rumah yang ada, kenapa rumah gw?”
Kaslana berdesis kecil sambil memegang lehernya.
“Ya… kita sepakat dirumah lu, kan sepi.”
Tatapan caelus sontak berubah datar.
“Nyindir nih, ato langsung ulti?”
Kaslana menegakkan badannya sambil berdeham pelan.
“kaga, muji itu. gw duluan kalo gitu, Lu berdua jangan aneh aneh di jalan nanti.”
“Ngomong apa sih…”
Kaslana membalikkan badannya lalu berjalan pergi.
Tangannya terangkat ke atas, lalu melambai pelan untuk mereka.
Caelus menatap punggungnya yang perlahan menjauhi mereka.
Tatapannya berpindah ke Kirene.
“yok, pulang juga kita.”
Kirene mengangguk pelan, tanpa menjawab.
Mereka mulai berjalan menyusuri lorong itu, menuju pintu keluar dari bangunan itu.
Melewati setiap murid dan beberapa guru.
Pandangan Caelus terfokus ke depan tanpa menoleh Kemanapun lagi.
Sampai akhirnya mereka tiba di gerbang depan.
Kirene menghentikan langkahnya.
“Caelus.”
Caelus terhenti, lalu menoleh ke arahnya.
“apaan?”
Kirene memainkan jari jarinya, tanpa langsung membuka mulutnya.
Caelus menghela nafas kecil.
“Biasanya lu kayak gini ada sesuatu nih, buru apaan?”
“aku kerumahmu bentar, boleh gak?”
Caelus terkekeh pelan.