…
Mereka berhenti tepat di teras rumahnya.
Kirene menghadap ke Caelus dengan senyum tipisnya, lalu melambai pelan.
“aku masuk duluan ya, nanti pulang hati hati.”
Caelus mengangkat Satu tangannya
“Masuklah, kalo gitu gw pulang ya, dah.”
Ia membalikkan badannya, lalu melangkah pergi dari rumah itu.
Kirene tidak langsung berjalan masuk.
Ia menatap punggung caelus yang perlahan menjauhi rumahnya.
Dirasa cukup jauh… ia membuka pintu rumah, lalu berjalan masuk.
. . .
Kunci rumah terbuka.
Caelus membuka pintu, dan langsung melangkah ke kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur dengan tatapan langsung tertuju ke langit atap.
TINGGG…
Sebuah notifikasi menggetarkan pelan HP nya.
Layar yang terang langsung bersinar dekat ke wajahnya.
Ia memperhatikan chat yang dikirim oleh… kaslana.
Kaslana: uy, jadinya di rumah Caelus kan?
Caelus mengernyit tipis.
Jarinya menekan huruf di layar dengan cepat.
Caelus: janganlah, rumah gw ga ada apa apaan ini.
Kaslana: udah, gapapa. Yang lain juga setuju.
Caelus: Tugasnya apaan juga?
Kaslana: tugasnya gampang lah, cuma… lupa.
Caelus menghela nafasnya, lalu mematikan layar hp-nya.
Sunyi…
Jam berdetak, terdengar lebih keras saat malam seperti ini.
Tatapannya berpindah ke jam itu.
Satu detik… dua detik…
Ia mengusap wajahnya pelan, lalu memalingkan wajahnya ke samping.
Pikirannya kosong secara perlahan.
Matanya sedikit demi sedikit terpejam…
…
Tok, Tok.
Pintu rumah diketuk pelan.
Entah oleh siapa.
Caelus bangkit dari kasurnya, sambil mengucek mata.
Ketukan pintu kembali terdengar.
Lebih keras.
Caelus tidak langsung pergi.
Ia berdiri diam disana dengan tatapan yang membeku di kasur.
Lagi dan lagi ketukan terdengar.
Semakin keras dan cepat, dan terjadi berkali kali.
Caelus berdecak pelan.
“Bentar woi! Gw ngumpulin nyawa.”
Ia keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju pintu masuk.
Pintu langsung terbuka lebar.
“Pagi tuan rumah~, mimpi apa lu ampe bangun lama gini.”
Gumam kaslana sambil melambaikan tangannya ke wajah caelus.
Caelus tidak langsung menjawab.
Ia menguap pelan, lalu menatap wajahnya.
“Harus banget ya lakuin sekarang?”
“Engga sih, sebenernya… gw ga nentuin waktunya, entar juga pada kesini.”
“Moga aja engga.”
Sahur caelus.
Ia membalikkan badannya, sambil meregangkan badannya.
“Masuklah, lu dah kesini juga. Mau gw bikinin apa?”
Kaslana melangkah masuk.
“mesen nasi goreng, ga pake kecap ya.”
“Lu kira warung kaki lima, adanya air putih.”
Jawab Caelus dengan nada lirih.
Kaslana tertawa tipis.
“yaudah itu gapapa.”
Caelus mengangkat alisnya cepat, lalu berjalan ke dapur.
Ia mengangkat tangannya, dengan jempol menunjuk ke sofa berdebu itu.
“Duduk disitu dulu.”
“Oke, tuan rumah baik.”
Caelus menuangkan air putih ke dua gelas.
“Engga, abis ini gw usir lu.”
“Tuan rumah ga jadi baik…”
Balas kaslana dengan gelengan kepala.
Ia menyalakan layar hp-nya, lalu mengetik cepat.