Matahari semakin naik ke atas langit, dengan cahayanya yang perlahan menjadi lebih panas.
Caelus mulai mengusap keringat yang mengucur di dahinya.
“Lan, kota lagi panas gini nyari bahan sampe mana dah?”
“bahannya apa aja, gw ga tau.”
Caelus menghentikan langkahnya dengan cepat, sambil menatapnya.
“Yang bener aja… lu-”
Ia menghela nafas panjang.
“Ah tau dah…”
“lu dah liat chat belom?”
Gumam rappa.
Kaslana terdiam.
dengan langkahnya terhenti, sambil memegang rambutnya.
“... Iya ya, lupa gw.”
Rappa menoleh ke samping, lalu menunjuk ke kaslana.
“Cael, gebukin yok.”
“Ayo, gw butuh pelampiasan.”
Kaslana tertawa kecil, lalu membuka hpnya.
“Santai, santai… gw liat chatnya.”
Layar HP menyala redup.
Sebuah chat sudah terkirim sejak 24 menit lalu.
Kaslana menatap mereka berdua dengan senyum Canggung.
“Iya, hampir setengah jam lalu.”
“Ya, lu buka… jangan senyum pepsodent ke kita.”
Gumam Caelus dengan nada ditekan.
Kaslana memindahkan pandangan ke layar, sambil mengangkat tangannya ke Caelus.
“Sabar, jangan gigit gw dulu.”
Acheron mengirim pesan.
Berisi bahan apa saja yang mereka perlukan untuk mengerjakan tugasnya.
Kaslana membacanya dengan tenang, lalu menutup layarnya.
“Oke, gw tau bahannya.”
Ia memindahkan pandangan ke rappa, sambil mengangkat cepat alisnya.
“Rap, lu bawa duit kan?”
Rappa merogoh saku celananya.
Beberapa koin dan uang kertas ia pegang.
“Nih, kalo di itung sih… satu juta totalnya.”
“Satu juta di bahasanya pasti sepuluh ribu.”
Gumam Caelus sambil menatapnya.
Rappa menjentikkan jarinya.
“Betul sekali, pinter lu. Kalo lu bawa berapa?”
“Masih nanya lagi…”
Kaslana menepuk tangannya sekali.
“Udah, langsung gas aja ini, mereka nunggu sejam ini.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari bahan itu.
Langkah demi langkah mereka jalani.
Rumah dan jalan mereka lalui.
Sampailah mereka ke salah satu warung makan di kota itu.
Kaslana menghentikan langkahnya tepat di depan warung itu, diikuti dengan rappa dan caelus.
Ia menunjuk ke pintu masuk.
“Makan dulu gak?”
Rappa mengangguk cepat.
“Ayu aja gw mah.”
Kaslana memindahkan pandangan ke caelus.
“Lu gimana, cael?”
Caelus menggeleng pelan, sambil melipat tangannya ke kepala.
“Gw tar aja, dirumah masih ada makanan juga.”
Kaslan terdiam sesaat.
Ia menurunkan satu alisnya.
“Bener?”
“Gw bisa beli sendiri nanti tuh… gw mau buru buru pulang juga.”
Caelus menurunkan tangannya.
“Atau gini aja, gw sendiri beli barang, kalian makan dulu.”
“Tap-”
“Weh, kaslana?.”
Sela seseorang di dalam warung itu.
Sontak kaslana menengok ke belakang, diikuti Caelus dan rappa.
…
Perlahan Billy muncul dari balik pintu, lalu terkekeh kecil.
“Jirlah bener, ama lu berdua ternyata.”
Kaslana menghela nafasnya.
“Gw kira siapa, lu disini?”
Billy menganggukkan kepala sekali.
“Iya, sarapan dulu lah… udah mulai kerja kelompoknya?”
“Daritadi, lu ga bales gw chat.”
Billy menurunkan Satu alisnya.
“Gw baca doang, siapa tau gw sendirian nanti pas dateng.”
Ia berjalan keluar dari warung itu.
“Gw denger salah satu dari kalian usul mau beli bahan sendirian, siapa?”
“Gw.”
Sahut Caelus sambil mengangkat tangannya.