…
Jangkrik berbunyi nyaring di luar rumahnya.
Caelus merebahkan tubuhnya, dengan tatapan langsung menangkap langit langit atap.
Sunyi… terlalu sunyi…
Jam berdetak pelan.
Terdengar keras… setara dengan bunyi jangkrik itu…
…
Harusnya gw Terima aja ga sih uangnya…
Caelus mengusap wajahnya sekali.
Engga… ngapain gw mikir gitu, masih ada makanan di rumah.
Harusnya diterima ga sih… itung itung buat ke depan.
Caelus membalikkan badannya menghadap dinding kayu, dengan mata ia pejamkan paksa.
Mikir apa coba.
Tak terasa pikirannya terlelap dengan cepat…
Sampai tak menyadari cahaya matahari sudah bersinar terang melewati jendelanya.
Caelus mengucek pelan matanya, sambil duduk di kasur itu.
Tatapannya langsung tertuju ke arah pintu kamar.
…
Tidak ada ketukan.
Ia bangkit dari kursinya sambil menguap lebar, lalu berjalan ke kamar mandi.
Menit demi menit berlalu.
Ia membuka pintu kamarnya sambil mengenakan pakaian.
Kepalanya keluar dari lubang bajunya, lalu menatap ke hasil kerja mereka.
… masih utuh, tanpa terlihat rusak.
Caelus berjalan ke dapurnya.
Langkahnya terhenti di depan kulkas, lalu membukanya.
…
Tidak ada yang bisa dimakan.
Caelus menghela nafasnya pelan.
Tatapannya berpindah ke belakang.
Iya… setidaknya masih ada air putih.
Ia duduk di sofa itu, sambil membawa air putih di gelas., lalu meneguknya secara perlahan.
Sampai minuman itu habis… ia berjalan ke rak piring, lalu menaruhnya di sana.
Tok, Tok.
Pintu diketuk pelan.
Tatapan caelus sontak berpindah kesana, namun tak langsung menghampiri.
…
Tok, Tok. Tok.
Ketukan kembali terjadi.
Lebih banyak.
Namun tidak ada yang memanggil namanya.
Caelus mendekati pintu itu.
Kunci terbuka, perlahan pintu rumah terbuka.
Ia mengeluarkan kepalanya terlebih dulu.
…
Seseorang dengan hoodie hitam berdiri di luar, menunggu pintu untuk dibuka.
“Siapa?”
Tanya Caelus.
Orang itu tidak langsung menjawab.
Ia melihat mata Caelus yang mengintip dari balik celah.
“ini gw, masa lupa?”
Caelus menurunkan satu alisnya.
Gw?
Siapa?
“Siapa? Ga kenal.”
Orang itu menghela nafasnya pelan.
“Gw dah ngeliatin lu dari kemarin loh padahal.”
Perlahan ia menurunkan tudung hoodienya, sampai memperlihatkan wajahnya secara penuh.
Satu matanya berwarna beda dari sebelahnya…
Senyum itu…