Pintu rumah terbuka, dan Caelus melangkah keluar dari rumah itu.
Ia menatap tangan yang memegang uang yang baru saja diberikan oleh orang itu.
…
Tangannya mencengkram tanpa sadar, lalu memasukkan uang itu ke sakunya.
Ya… Setidaknya bisa buat makan dua hari.
Kakinya perlahan terangkat ke depan, diikuti dengan kaki satunya dengan cepat.
Perlahan menjauhi rumah itu.
Langkah kaki membawanya ke salah satu warung makanan.
Tatapannya langsung terpaku ke uang itu cukup lama.
Sampai perlahan memindahkan pandangan ke depan.
Gw butuh… gw butuh.
Berjalan pelan kedepan…
Memasuki warung itu.
…
Di tempat lain dari kota itu… Yura berjalan santai.
Tudung hoodie menutupi hampir seluruh wajahnya.
Melewati beberapa orang yang sama sama melangkah di pinggir jalan.
Ia tidak menggubris, tatapannya lurus kedepan.
Sampai langkahnya terhenti di depan rumah seseorang.
Tatapannya berpindah ke samping, lalu ke bangunan dari rumah itu.
Cukup rapi… dengan beberapa interior di luar rumah.
…
Ini?
Ia melangkah masuk, lalu berhenti tepat di depan pintu rumah itu.
Yura menghela nafasnya tipis.
Tangannya sempat terhenti di tengah udara, sebelum mengetuk pintu rumah itu.
…
Tak butuh waktu lama pintu rumah itu sedikit terbuka.
Satu pasang mata terlihat dari balik celah.
“Siapa ya?”
Ucap seseorang di dalam dengan nada lembut.
Yura tidak langsung menjawab.
Kayaknya ini sih…
Ia berdeham pelan.