Blossom As Spring Renews

Arjun
Chapter #8

Chapter #8

Matahari sudah meninggalkan langit di kota itu sedari tadi…

Lampu lampu jalan mulai menyala.

Kendaraan yang berlalu lalang semakin berkurang.


Yura membuka pintu rumah Kirene, lalu melangkah keluar.

“Gw pulang duluan ya, udah malem juga.”


Kirene menghentik langkahnya di depan pintu.

“Kamu nginep dimana? Kan dari sini ke kota sebelah jauh.”


Yura melirik ke samping sambil tersenyum tipis.

“Gw tau. Aman gw dah nyewa kos kosan bentar, ga jauh.”


Ia mengangkat satu tangannya ke udara, lalu mengangkat kakinya kedepan.

“Gw duluan ya, jangan tidur malem malem.”


“Yura bentar.”


Yura menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.


Kirene menatapnya.

Tanpa langsung berbicara.

Ia memainkan jari jarinya.

“Kamu… ga bilang ke Caelus, kan?”


Yura memejamkan matanya sesaat, sambil menghembus nafasnya tipis.

“engga lah…”


Ia membuka matanya.

Kirene masih menatap, tanpa ada ekspresi sedikitpun.


Desisan kecil muncul dari mulutnya.

“iya…ada dikit.”


“Tuh kan… kalo dia mikir aneh aneh gimana?”


Yura tertawa canggung.

“ ga bakal, caelus bukan orang yang gitu kan? gw cuma ngomong ke lu soal keadaannya.”


Tatapannya berpindah ke depan.

“Gw ga bisa bantu dia sering, apalagi anaknya dari dulu emang batu kalo mau dibantu, jadi pas tau kalo keadaannya kayak gitu…”


Ia terkekeh pelan.

Hampir tak terdengar.

“Harusnya gw ga kuliah di luar kota.”


Kakinya kembali terangkat ke depan.

“tetep deket aja sih pesen gw, jarang juga kan gw kesini ngeliatin.”


Kirene tidak menjawab apapun.

Hanya menatapnya yang kini hilang dari balik pagar rumahnya.

Langkahnya mulai terdengar menjauh.

Sampai akhirnya menghilang.


ia melangkah masuk ke dalam rumahnya lagi.

Pintu rumah tertutup.

Bertepatan dengan suara notifikasi dari hp-nya.


Kirene membuka layar HP.

Kaslana mengirimkan pesan


Kaslana:

Ren, lu mau bawa ga hasil kerja kita?


Kirene terdiam saat membaca itu.

Jarinya perlahan mengetik.


Kirene:

Kenapa?


“Kirene, nak. Tamunya udah pulang?”

Ucap ibunya dari arah dapur.


Kirene menoleh ke depan.

“udah, bu.”


“Yaudah, makan dulu sini, baru tidur.”


Hp-nya bergetar ringan lagi.


“Iya, bu, bentar ada yang chat.”

Jawab Kirene sambil membaca isi chat kaslana.


Kaslana:

Gw ga terlalu percaya sama dia soalnya, takutnya kelupaan lagi.


Kaslana:

Kalo ga bisa juga gapapa, cuma jaga jaga kalo seandainya dia kelupaan.


Kirene:

Iya, aku coba lebih awal datengnya nanti, kerumah Caelus.


Kirene mematikan layar hp-nya, lalu berjalan menuju dapur.


…


Jam berdetak pelan.

Caelus masih merebahkan tubuhnya di kasur.

Sunyi…

Terlalu sunyi…


Harusnya gw ga tidur ampe malem…


Ia memejamkan matanya.

Lihat selengkapnya