Bell di sekolah itu kembali berbunyi untuk ketiga kalinya.
Setiap murid mulai merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Satu persatu dari mereka mulai keluar dari kelas masing masing.
Dengan beberapa masih berkumpul di lorong dan lainnya yang menuju pintu keluar.
Caelus menyampirkan tas ke bahunya, lalu berjalan ke pintu keluar.
“Cael, tungguin.”
Panggil Kirene yang masih memasukkan buku ke tas.
Caelus menghela nafasnya pelan, dengan kedua baju terangkat lalu turun lagi.
“Yaelah… bareng mulu.”
Kaslana tertawa kecil, sambil melewatinya.
“Gapapa, cael, sekali kali temenin dia.”
Caelus menatapnya sambil mengernyit tipis.
“Sekali apaan… Hampir tiap hari woi.”
Jendela di samping belakangnya terbuka.
Ia tidak melihat kesana.
Namun tau siapa yang akan melakukan hal itu…
“Udah, yuk.”
Ucap kirene yang berada di sampingnya.
Mata caelus meliriknya sebentar, lalu mulai berjalan keluar kelas.
…
Sama seperti hari hati sebelumnya.
Selama perjalanan tidak ada hal menarik lagi.
Mau di lorong… maupun di perjalanan pulang.
Mereka hanya mengobrol hal receh.
Sampai tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai ke rumah caelus.
…
“Ya, terserah lu sih, ren. Mau pake gw lu, atau… Aku kamu. Gw ga terlalu peduli.”
Ucap Caelus sambil berjalan.
Kirene terdiam sesaat, sambil memainkan tali di tasnya.
“bedanya emang apa?”
“ga ada sih, bedanya ya… di tulisan.”
Kirene menghadap kedepan.
“Ya… paling juga perlu penyesuaian-”
Ia terdiam.
Dengan kepala sedikit mencondong kedepan.
Caelus menatapnya dengan satu alis menurun.
“Liat apaan?”
“Itu… di depan rumah mu.”
Caelus menatap ke depan rumahnya.
“siapa tuh? Debt collector?!”
Kirene menepuk bahunya pelan.
“Bukan lah…”
“Lu kan gatau ren, tapi gw ga punya utang dah perasaan.”
Langkah mereka semakin dekat ke rumahnya.