…
Cahaya yang terang itu pelan pelan berubah menjadi warna Oren.
Burung burung berterbangan di atas langit, membentuk sebuah koloni kecil.
Caelus berjalan di pinggiran, dengan pandangan ke bawah.
Langkahnya pelan.
Kendaraan berlalu lalang melewatinya berkali kali.
Sampai ia menghentikan kakinya, lalu menoleh ke samping.
Beberapa orang menyusuri taman itu.
Tidak ada yang sendiri.
Wajah mereka terlihat… hidup, seolah tak ada beban.
Beberapa orang juga melangkah masuk ke dalam taman itu, sambil membawa bungkusan yang entah isinya apa.
Ia hanya menatap kosong ke tempat itu.
Perlahan badannya membalik.
Langkahnya kembali berjalan, menuju rumahnya…
Matahari sepenuhnya menghilang dari kota itu.
Lampu jalan sudah hidup sedari tadi.
Jalanan menjadi lebih sepi, begitu juga suasananya.
Caelus menatap ke rumahnya.
Terlalu gelap…
Tidak ada keajaiban yang menghidupkan kembali rumahnya.
Ia melangkah masuk kedalam.
Gelapnya rumah di sertai deritan dari kayu tua itu membuat hening pergi sesaat dari ruangan itu.
Namun setelah itu semua hilang… itu semua kembali.
Caelus melangkah masuk, dengan tatapan langsung menangkap meja di sofa.
Piring masih tergeletak di sana.
Sisa sisa dari lilin yang mengeras menempel.
Ia mengalihkan pandangannya menuju pintu kamar, lalu berjalan kesana.
Langkahnya santai.
Tidak meraba sekitarnya.
Pintu kamar terbuka, lalu tubuhnya langsung masuk ke dalam sana.
. . .
Waktu kembali berjalan tanpa berhenti sedetik pun.
Pagi tiga.
Malam tiba…
Pagi kembali, dan… Siang lagi.
Caelus duduk di bangku.
Hampir semua yang dikenalnya tidak masuk.
Kecuali… orang di samping kiri dan kanannya.
Guru berbicara namun tak terlalu bisa ia dengar dengan jelas.
Beberapa menit berlalu, bell akhirnya berbunyi nyaring.
Istirahat kedua… sebelum semuanya berakhir.
Caelus menggenggam pulpennya.
Perlahan mengerat tanpa sadar, sampai tangannya bergetar kecil.
Ia menghela nafas pendek.
“Ren…”
Kirene melirik ke arahnya, tanpa menjawab sepatah katapun.
Caelus melemahkan pegangannya, lalu menaruh pulpen di meja.
“Gw minta sesuatu… boleh gak?”
Kirene terdiam.
Cukup lama, dengan tatapan terpaku ke matanya.
Mungkin… tidak berkedip juga.
Caelus menoleh.
Hanya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.
“Jangan tatap gw gitu lah, ga jadi deh.”
Kirene mengerjap pelan.
“Eh- engga, bukan gitu, aku cuma kaget.”
Ia mencondongkan kepalanya ke depan.
Menatap wajah Caelus lebih jelas lagi.
“Mau minta apa? Bilang aja, beneran gapapa kok.”