Blossom As Spring Renews

Arjun
Chapter #16

Chapter #16

Tok, Tok.,Tok.


Pintu dirumah Caelus diketuk pelan.


Ia membuka matanya perlahan, dengan posisi badan berpindah ke samping.

Sinar terang melewati jendela rumahnya, lalu mendarat ke kasur.


Ketukan pintu kembali terdengar, dengan namanya yang dipanggil dengan nada lembut.


Perlahan mata Caelus terbuka.

Pandangannya sempat buram sesaat, sebelum kembali normal.


“Caelus?”

Panggil Kirene yang diluar.


Caelus bangkit dari kasurnya, lalu berjalan menuju pintu masuk.


Pintu terbuka dengan lebar, Kirene berdiri di luar.

Entah dari kapan.


Caelus memijat dahinya.

“Lu dari kapan sampe sini?”


“baru dateng.”

Jawabnya.


Kirene mengulurkan tangannya, lalu Caelus menatap tangan yang mengarah ke arahnya itu.


Mengepal, seperti… memegang sesuatu.


Caelus menghela nafasnya tipis.

“Apaan lagi ini, ga usah lagi lah…”


“Ambil aja, buat beli lampu lagi. Kemarin kan cuma satu.”


Caelus tidak langsung menjawab.

Ia berdesis kecil.

“Gw bukannya ga mau, tapi… lu dah bantu gw kan kemarin.”


Kirene mengangguk tipis.

“Iya, aku bantu lagi sekarang.”


Caelus menghadap ke langit langit atap, dengan kedua tangan menutupi hidung dan mulutnya.

“Batu banget…”


“Kamu yang batu, dah berapa kali aku nawarin bantuan coba? Kamu malah nolak terus.”

Balas Kirene dengan cepat.


Kirene mendekatkan tangannya ke dada Caelus.

“Ambil aja, cael. Pegel ini tanganku lurus terus.”


Caelus menaruh tangannya tepat di bawah tangan Kirene.

“Taruh sini aja.”


Kirene membuka kepalan tangannya.

Beberapa orang terjatuh dari tangannya, dan mendarat ke tangan caelus.


Tatapan caelus langsung tertuju ke tangan yang menggenggam uang itu.

Hembusan nafas cepat terdengar dari mulutnya.

“Moga gw ga bergantung banyak sama lu kedepannya nanti.”


Kirene menarik tangannya.

“Kalo bergantung juga tetep ku bantu.”


Caelus terdiam.

Terlalu baik ni cewek…


Ia mengerjap beberapa kali.

“Lu abis ni kemana?”


Tatapan Kirene berpindah ke isi dari rumah Caelus.

“Aku main kesini lagi, bentar aja. Boleh gak?”


Caelus mengangkat alisnya dengan cepat.

“Boleh aja, tapi gw mandi dulu.”


Ia membalikkan badannya, lalu berjalan pergi menuju kamarnya.

Pintu kamarnya tidak ditutup.


Kirene ikut melangkah masuk, dengan tatapan menyapu sekitaran rumah itu.

Berdebu… hampir tak terawat.

Bahkan jaring laba laba hampir membentuk peradabannya sendiri di atap rumahnya.


Pandangannya sontak terpaku ke pintu di samping Caelus.

Lihat selengkapnya