Waktu berjalan dengan cepat.
Dari pagi ke siang, lalu sore.
Kirene berjalan pulang ke rumahnya, sambil berpamitan ke caelus.
Dan kali ini… pagi kembali datang.
Banyak murid sudah melewati gerbang di depan, lalu berjalan menuju bangunan tua itu.
Caelus sudah berada di bangku nya sedari tadi, dengan kepala tergeletak di meja.
Tatapannya berpindah dari murid satu ke murid lainnya.
Entah untuk apa, tidak ada hal yang bisa dilakukan selain mengamati mereka.
Kaslana memegang bahunya.
“Uy, pagi pagi udah malesan aja.”
Caelus melirik ke atas, melihatnya berdiri di samping.
“elu, lan. Gw cuma… gabut.”
“gabut apa gabut…?”
Caelus berdecak kecil.
“Lu kali yang kurang kerjaan, makanya kesini.”
Kaslana tertawa tipis.
“Tau aja, gw ajak mau gak? Istirahat kedua nanti.”
Caelus mengangkat kepalanya sambil menghela nafas.
“Kemana? Kalo ngajak pulang cepet gw ga mau dah.”
Sesaat pandangan kaslana terangkat ke atas, lalu kembali ke Caelus.
“Ke atap, sumpek disini.”
Caelus tidak langsung menjawab.
Ia mengalihkan pandangan sambil berdesis pelan.
“Engga deh kayaknya, gw disini aja.”
Kaslana menghembuskan nafasnya dengan cepat.
“Yaelah, anak kelas mulu, sekali kali keluar kayak kemarin.”
“Lah, emang gw keluar?”
Jawab Caelus dengan satu alis menurun.
Kaslana tersenyum tipis, sambil menunjuk ke belakang.
“Gw liat lu bareng Kirene ke kantin, pasti udah jadi-”
“Bacot, dia yang minta.”
Sela Caelus dengan cepat.
Bell berbunyi nyaring, menenggelamkan ribut di kelas itu.
Kaslana sontak melirik kedepan.
Tatapannya kembali ke Caelus, lalu menepuknya pelan beberapa kali.
“bell nih, kayaknya bestie lu telat deh…”
Caelus menutup kedua telinganya sambil menggeleng pelan.
“Ga denger, ga denger.”
Pintu bergeser pelan.
Kirene melangkah masuk ke dalam, di ikuti dengan guru di belakangnya.
Ia duduk disamping Caelus, lalu tersenyum ke arahnya.
“pagi.”
“Pagi, lu sebenernya bangun jam berapa dah, tiap hari dateng pas mau bell mulu.”
Jawab Caelus.
Guru di depan mulai berbicara tentang rumus asing yang bahkan Caelus sendiri tak mengerti artinya apa.
Spidol di tangannya mulai membentuk sebuah angka dan huruf acak di papan.