Pikirannya mulai terlelap…
Tubuhnya terasa lemas.
Suara riuh dari murid di kelas seolah teredam.
…
“Cael, bangun woi.”
Panggil kaslana.
Tidak ada jawaban.
Kaslana menghela nafasnya pendek.
“Et dah, Kirene dah nungguin loh.”
Ia memukul bahu Caelus beberapa kali.
“Caelus, bangun woi. Gw setel video siksa kubur nih.”
Caelus membuka matanya, namun tak langsung menoleh.
Ia tetap di posisi tanpa bergerak.
“Kenapa…?”
“Kirene nungguin lu itu, katanya cowok ga ngungkapin janji.”
Jawab Kaslana.
Caelus dengan cepat mengangkat kepalanya, lalu bergegas keluar, tanpa menjawab apapun lagi.
Pintu kelas terbuka cukup keras.
Suara sepatu berdecit terdengar di luar.
Kaslana hanya menatapnya pergi, lalu menggeleng pelan.
…
Caelus menatap sekitarnya dengan cepat, sambil berlari menyusuri koridor itu.
Ia menangkap sebuah ruang kecil di ujung koridor.
Langkahnya berhenti tepat di sampingnya, lalu menatap ke atas.
Tangga yang mengarahkan dirinya naik semakin atas dari bangunan itu…
Tanpa berpikir panjang lagi, ia melangkah maju ke depan.
Semakin naik, Dan naik…
Sampai akhirnya… ia sampai di anak tangga terakhir.
Angin kencang langsung menerpa wajahnya, dan menyapu rambut ke belakang.
Kencang, namun… Sejuk.
Ia berjalan keluar dari sana, lalu menyapu sekitaran atap.
Ada pagar pembatas di setiap ujungnya, bahkan… beberapa tanaman hias?
Baru tau kalo ni sekolah tua punya atap.
Tatapannya berpindah ke kiri.
Satu orang sedang berdiri di ujung, sambil melihat ke bawah.
Tatapan Caelus berbelok ke kanan, namun dengan cepat terhenti di tengah.
…
Ia kembali menoleh ke kiri.
Kirene berdiri disana, dengan rambutnya yang terkibas oleh angin.
“Ren, lu ngapain disana? Jauh jauh woi, jatuh nanti?!”
Teriak Caelus.
Kirene menoleh ke arahnya.
“loh, cael, lama banget…”
Caelus mendekatinya.
“Sorry, sorry. Hampir ketiduran gw, untung kaslana bangunin.”
Ia berdiri tepat di sampingnya.
Tidak dekat, juga tidak jauh.
“Lu ngajak gw kesini buat apa?”
“Kan aku udah bilang cari angin. Temenin aja bentar.”
Caelus mengangkat bahunya, lalu duduk di sambil bersandar di pagar pembatas.
Kirene menurunkan pandangannya.
“Katanya nanti jatuh, situ malah duduk.”
Caelus mengangkat kepalanya, lalu tertawa kering.
“gw… capek lari kesini. Baru bangun juga kan.”
Kirene tidak menjawab.
Ia menghela nafasnya, lalu kembali menghadap ke depan.
Caelus perlahan ikut melihat ke mana ia memandang.
…