Blossom As Spring Renews

Arjun
Chapter #20

Chapter #20

. . .

Malam semakin larut.

Tidak ada lagi kendaraan yang melewati rumahnya, mau itu motor ataupun mobil.


Serangga berbunyi nyaring di semak teras rumahnya.


Caelus memindahkan tubuhnya dengan cepat.

Dari kiri, ke kanan.

Kanan lagi, kiri lagi.

Entah berapa lama ia melakukan itu.


Sampai akhirnya Caelus menghadapkan badannya ke tengah.

Nafasnya terengah, dengan keringat mengucur di kepala.


Tatapannya lurus ke atap atap langit, tidak berpindah seinci pun.


Bisikan aneh mulai mengitari telinga nya.

Atau… pikirannya?


…

Harusnya lu ga cerita.


…

Gimana kalo dia ingkar janji?


Suaranya mirip dengannya.

Namun… terdengar masuk akal.


Engga… Dia ga mungkin ingkar janji kan?


Caelus menempelkan kedua tangannya sampai memenuhi wajah.

Perlahan kedua tangan itu menekan wajahnya sendiri, semakin keras, dan terasa…


“Kenapa gw goblok banget, kenapa gw goblok banget…”

Gumamnya sendiri dengan nada pelan.


Ia mendaratkan kedua tangannya ke kasur dengan keras.

“Kenapa gw bodoh banget!”


Nafasnya semakin tidak stabil.

Perlahan satu tangannya mencengkram sprei kasur itu.


Gw harusnya ga cerita.


…

Lu setidaknya kalo udah nerima bantuan ya ga usah bagiin cara lu hidup…


Caelus memasukkan tangan ke bawah bantalnya, lalu mengambil hp-nya.

Layar bersinar terang.


Jam 2:22…


Kirene sudah membalas chatnya beberapa jam lalu, namun belum ia baca.


Isinya apa…

Ga mungkin yang aneh kan?


Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu menaruh hp-nya di bawah kasur lagi.

Besok aja gw liat.


Caelus memindahkan posisi tidurnya ke samping.

Memaksa mata dan pikirannya untuk memproses semuanya terlebih dulu.


…

Pagi tiba… kelas itu nampak lebih berisik dari biasanya.

Banyak dari murid di kelas itu berbicara.

Entah apa topiknya.

Suara mereka bertabrakan dengan obrolan murid lain.


Caelus sudah berada di bangku.

Matanya sayu dan sesekali tertutup.


“Lu kayaknya kurang tidur deh, emang ngapain dah malemnya?”

Gumam kaslana di sampingnya.


Caelus menoleh perlahan.

Terlalu pelan.

“Bukan kurang lagi,beneran kurang ini mah.”


Ia menguap dengan mulut yang terbuka lebar.

Lalat bisa saja masuk jika ada.

Lihat selengkapnya