Bell kembali berbunyi.
Pelajaran akan segera dimulai.
Beberapa murid berlarian menuju kelas mereka masing masing.
Namun… mereka bertiga hanya berjalan pelan, dan santai.
Mereka mengobrol santai, walau hanya rappa yang dominan untuk bertanya.
Sorot mata Caelus sesaat tertuju ke mereka, lalu dengan cepat kembali menghadap ke depan.
Rappa melipat tangannya ke belakang kepala.
“Abis ni pelajarannya apa, ren?”
Kirene meliriknya sesaat, lalu kembali menghadap ke depan.
“Kalo ga salah… bahasa Inggris sih.”
Rappa berdecak pelan.
“Inggris ya, Bangke ah.”
“Kenapa?”
“Susah, ren. Bahasanya munafik, What dibaca Wat, Fish dibaca Fis.”
“Caelus pinter, tanya dia aja. Ya gak, Cael?”
Jawab Kirene sambil menatapnya.
Caelus mengerjap beberapa kali, lalu menatapnya balik.
“m-mayan lah… tapi jangan berharap, belum tentu bener juga.”
Obrolan mereka masih berlanjut, sampai melewati beberapa kelas lainnya.
Tidak ada ucapan dari Kirene yang berhubungan dengan momen mereka di atap kemarin…
Pintu bergeser pelan, semua tatapan langsung tertuju keluar.
Bukan guru, melainkan Caelus dengan dua orang lagi yang melangkah masuk.
Mereka mulai menuju bangku masing masing.
Beberapa menit berlalu, guru pelajaran akhirnya berjalan masuk menuju kelas mereka.
Sama seperti hari biasanya, selama pelajaran tidak ada hal menarik sama sekali, selain ocehan guru yang berbicara bahasa asing.
Caelus kembali menatap Kirene.
Tatapannya fokus ke depan, memperhatikan pelajaran dengan penuh.
Ia menghela nafas pelan, lalu ikut menghadap ke depan.
Pelajaran demi pelajaran berakhir.
Waktu berjalan, walau terasa lambat…
Sampai akhirnya bell keempat berbunyi.
Pelajaran selesai.
Semuanya selesai…
Caelus bangkit dari bangkunya, lalu berjalan pergi.
Tidak mengatakan apapun.
Kirene masih memasukkan buku ke tasnya, lalu mendengar langkah yang menjauh.
Tatapannya langsung berpindah, dan melihat Caelus melewatinya.
“Caelus, bentar.”
Caelus menghentikan langkahnya, lalu menghela nafas tipis.
Hampir tak terdengar.
“Panik ya? Gw tungguin kok di luar.”
Ucapnya tanpa menoleh.
Kirene tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih membeku.
“... Ku kira mau di tinggal.”