Matahari kembali terbit, dan berhenti tepat di atas sekolah mereka.
Pelajaran dimulai seperti biasanya.
Guru memberikan materi pelajaran, sambil sesekali bercanda.
Walau tidak terlalu lucu juga.
Kirene melirik ke sampingnya.
Caelus menghentakkan kakinya ke lantai.
Tidak cepat.
Namun sesekali kakinya terangkat terlalu tinggi sampai menabrak meja.
Tatapannya fokus ke depan.
Terlalu fokus, bahkan meliriknya sedetikpun tidak.
“Cael, kaki mu gapapa? Nabrak meja terus loh daritadi.”
Bisik Kirene.
Caelus menghentikan kakinya, lalu menoleh ke bawah, seolah tak sadar dengan apa yang ia lakukan.
Ia kembali mengangkat pandangannya, namun tidak menuju ke Kirene.
“Gapapa.”
Jawabnya dengan singkat.
Kirene terdiam.
Ia juga tidak ingin bertanya lagi.
Sorot matanya kembali ke papan tulis.
Waktu berjalan cepat.
Pelajaran akhirnya selesai.
Semua murid mulai mengemas buku dan alat tulis mereka.
Caelus beranjak dari kursinya, lalu berjalan pergi.
“Gw tungguin di gerbang ya.”
Kirene menengok ke belakang.
“Loh, kenapa? Biasanya nungguin.”
Caelus menghentikan langkahnya sebentar, namun tidak menatap balik.
“Cuma nyari udara.”
Ia kembali melangkah pergi.
Kirene hanya diam, tanpa menjawab lagi.
Ia menatap punggungnya yang melewati pintu kelas.
Tas disampirkan ke bahunya, dan langsung melangkah
pergi dari kelas itu.
…
Sampailah ia di depan gerbang.
Caelus berdiri di sana.
Di depan gerbang, dengan pandangan ke jalan raya.
Kirene menghentikan langkahnya tepat di belakang punggung caelus.
“Kirene?”
Ucapnya.
Kirene terdiam sesaat.
“Iya…?”
Tubuh Caelus terdiam.
Tidak bergerak.
Hembusan pelan terdengar dari mulutnya.
“Sorry gw nanya lagi, tapi… lu masih simpen itu, kan?”
…
Pertanyaan yang sama lagi.
Untuk kedua kalinya.
“Iya, masih ku simpen.”
Jawabnya dengan nada lembut.
Caelus kembali menghela nafasnya, lalu memindahkan badannya ke samping.
“Makasih, maaf gw nanya lagi.”
Ia mulai berjalan pergi, dan Kirene tanpa merespon mengikutinya dari belakang.