Kirene berjalan cepat di lorong sekolah, sambil melirik sekitarnya.
Banyak murid berlalu lalang dari kelas ke kelas lainnya.
Begitu banyak obrolan terdengar dari segala arah.
Sepasang mata yang saling menatap lawan bicaranya.
Ia melewati setiap murid, sambil sesekali bahunya menyenggol murid lain.
…
Sampai akhirnya samar terlihat punggung Caelus di ujung lorong.
Hampir sampai di pintu keluar sekolah.
“Caelus…”
Ucapnya lirih.
Ia mempercepat langkahnya.
Melewati setiap murid yang berada di lorong, dengan tetap memperhatikan punggung Caelus.
Semakin dekat…
Hanya beberapa langkah lagi…
Sampai akhirnya ia memegang baju Caelus.
“Cael.”
…
Tidak ada jawaban…
Caelus perlahan menegangkan bahunya, lalu membalik badan ke arahnya.
Kerutan di keningnya terlihat jelas.
Ia tidak membuka mulut, hanya menatapnya dengan tajam, namun terasa… Kosong.
Kirene melepas pegangannya, sambil memundurkan langkah sekali.
“Kenapa nyari gw? Ga ada orang yang nemenin?”
Ucap Caelus dengan nada datar.
“B-bukan gitu, aku mau-”
“mau apa? Nanyain gw kenapa, terus lu ceritain ke mereka semua, lagi?”
Sela Caelus dengan cepat.
Kirene terdiam, sambil menatapnya.
“M-maksudmu apa, cael?”
Caelus membalikkan badannya, lalu kembali berjalan pergi.
“Semua orang tau lu ga pinter bohong, gw dah denger semuanya…”
Nafas Kirene tercekat.
Dadanya terasa sesak saat mendengar itu…