Mereka hanya diam membeku, dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
Tanpa ada yang membuka mulut mereka.
Yura memindahkan pandangannya ke kiri, lalu kanan.
Satu tangan terangkat, kemudian di kibas perlahan.
“Halo? Caelus minumnya woi.”
Caelus mengerjap cepat.
Tatapannya langsung berpindah ke yura.
“S-sorry.”
Dengan tangan yang masih bergetar, ia menaruh minuman itu di meja.
Yura menatapnya dengan kerutan di kening.
“Lu geter kenapa? Kurang makan?”
“B-bisa dibilang gitu.”
Jawab Caelus dengan gugup.
Ia kembali berjalan pergi menuju dapur.
“Gw… ambil minuman dulu, buat dia.”
Yura hanya diam sambil menatapnya.
Pandangannya kembali berpindah ke arah Kirene yang masih berdiri diam di pintu masuk.
“Ren, malah cosplay patung. Duduk dulu sini.”
Kirene tidak menjawab, hanya berjalan mendekatinya.
Selang beberapa menit, Caelus kembali menghampiri mereka sambil membawa minuman.
Ia menghembuskan nafasnya perlahan melalui mulut, lalu menaruh minuman itu dimeja.
“adanya itu doang, sisanya abis.”
Yura mengambil minuman itu, lalu meneguknya sekali.
“Gimana keadaan lu, Cael? Masih sehat?”
Caelus berdesis kecil.
“Gitu deh, gw kayak gini aja. Tidur, bangun, sekolah, terus lanjut lagi besok.”
Yura menaruh gelas kosong di meja.
Tatapannya tertuju ke satu gelas yang masih penuh.
Ia menurunk satu alisnya, dan tatapannya berpindah ke Kirene.
“Ren, ga minum lu?”
Kirene menoleh cepat, sambil menggelengkan kepalanya.
“E-engga, aku dah minum tadi.”
“Seharian tadi perasaan ga minum deh.”
…
Tidak ada jawaban.
Kirene hanya diam, begitu juga dengan Caelus.
Yura menyandarkan tubuhnya.
Ga… biasanya mereka ngomel nih.
Ia menghela nafas panjang, lalu menyeringai.
“Mumpung ga ada makanan nih, gw coba cari makanan dulu ya, buat kita makan.”
Tubuhnya langsung beranjak dari sofa itu, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Caelus membelalak cukup lebar.
Satu tangannya terangkat ke arahnya.
“Weh, Yur, bentar dulu.”
Yura menghentikan langkahnya di samping pintu, dengan kepala perlahan menengok ke dirinya.
“Kenapa? Lu ga mau nerima bantuan lagi? Gw tampol yang ada.”
“Bentar doang kok, ga ada lima tahun.”
Kata yura sekali lagi sebelum berjalan pergi.
Langkahnya terdengar menjauh.
Semakin jauh… sampai tak terdengar lagi.
Caelus mendecak pelan, sambil menurunkan tangannya.
…
Terlalu hening…