Comfortably in Blue

Fany Widya Pangestika
Chapter #1

3 — Cheesecake

“Kai.”

Rakai baru saja selesai menelepon seseorang ketika suara lirih Trisha memanggilnya. Lelaki itu refleks menghela napas penuh kelegaan begitu memutar tubuh dan melihat istrinya sudah terbangun setelah hampir lima jam dia kehilangan kesadaran karena sel-sel tubuhnya menolak efek dari kemoterapi yang siang tadi dia jalani. Dengan tiga langkah lebar, Rakai menghampiri ranjang pesakitan tempat Trisha berbaring dengan kanula yang terpasang di hidungnya dan jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya.

Rakai mengusap lembut rambut Trisha yang semakin menipis, kemudian membungkuk untuk menanamkan kecupan ringan pada pelipis wanita itu. “Do you need something?”

“I’m so sorry.” Trisha berbisik, tangannya yang tidak terhalang jarum infus terangkat, terjalin dengan jemari hangat Rakai yang langsung menyambutnya dalam genggaman erat. “Sorry if it’s so hard on you to told him about Thalassa.”

“It’s not your fault, Darling. You don’t need to say sorry.”

“It was entirely my fault, Kai.” Kedua mata Trisha mulai digenangi air. “Kalau saja aku berani jujur sama dia dari awal, semuanya nggak akan jadi begini. Aku nggak perlu bikin kamu menderita juga.”

“You are not. Never was. Will never be.” Rakai mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Trisha, membuat cincin kawin mereka yang tersemat di jari manis tangan kanan saling bersentuhan. “Kamu dan Thalassa adalah hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan dari Tuhan. Kalian bukan kesalahan, dan tidak akan pernah menjadi kesalahan. Kalau waktu bisa diputar ulang kembali pun, aku tidak akan ragu untuk melakukan hal yang sama atas kamu, dan atas anak kita.”

Trisha menarik sudut-sudut bibirnya untuk mengulas sebentuk senyum yang masih sama cantiknya seperti yang Rakai ingat. “Apa yang sudah pernah aku perbuat di kehidupan sebelumnya sampai Tuhan mengirimkan orang sebaik kamu ke dalam hidupku yang sekarang?”

“That question is mine to ask.” Rakai membalas senyuman istrinya dengan senyum yang menciptakan lesung samar di salah satu pipinya. “Apa yang sudah pernah aku perbuat di kehidupan sebelumnya sampai Tuhan mengirimkan kamu dan Thalassa ke dalam hidupku yang sekarang?”

“Kurang dari sebulan lagi, Thalassa genap tujuh belas tahun.”

“Ah ya, time flies so fast.” Rakai mengenang. “Nggak terasa gadis kecilku yang rewel dan suka bikin papanya terbangun tiap tengah malam buat bikinin dia susu dan gantiin popoknya yang kena ompol sekarang udah mau tujuh belas tahun.”

Trisha tertawa kecil. “But she will always be your baby girl, no matter what.”

Rakai mengangguk setuju. “Always and forever.”

“Di hari ulang tahunnya nanti, Thalassa pasti minta cheesecake.

“Selalu sama seperti tahun-tahun sebelumnya.”

“Tapi untuk ulang tahunnya besok, mungkin aku sudah nggak bisa lagi buatin dia cheesecake seperti sebelum-sebelumnya.” Trisha menghela napas panjang. “Karena suamiku ini adalah suami andalan yang bisa melakukan apa saja, jadi besok kamu ya yang buatin cheesecake di hari ulang tahun Thalassa? Mau, kan?”

Ada yang menyengat tajam di dalam hati Rakai ketika mendengar Trisha berkata seperti itu. Dia ingin membantah, tapi apalah kuasa yang dimilikinya sebagai seorang manusia biasa? Bahkan dokter yang menjadi tangan Tuhan selama satu tahun terakhir untuk Trisha saja sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memasrahkan kembali semua ketentuan kepada Tuhan selaku pemilik kehidupan. Sel-sel kanker yang membuat Trisha menderita selama ini sudah semakin menyebar—membuat tubuhnya perlahan rapuh dan mengurus karena efek kemoterapi yang rutin dia jalani.

Rakai tidak ingin kehilangan Trisha—tidak setelah belasan tahun yang lalu dia harus menelan fakta bahwa Trisha jatuh cinta dengan orang lain yang bukan dirinya. Tapi dia juga tidak ingin terus-menerus menjebak istri tercintanya dalam derita karena sakit tak tersembuhkan yang diidapnya sejak setahun silam.

Lelaki itu membawa tangan Trisha yang dia genggam ke hadapan bibirnya, mencium jemarinya tepat pada cincin pernikahan yang menyatukan mereka di hadapan nama agung Tuhan belasan tahun silam. “Apapun yang membuat Thalassa bahagia, aku akan selalu melakukannya. Apapun. Karena aku ayahnya.”

Trisha benar-benar ingin menangis sekarang. Jauh di dasar hatinya, dia tahu kalau hal ini tidak adil buat Rakai. Laki-laki itu sudah mengorbankan banyak hal untuknya dan Thalassa, tanpa peduli fakta kalau Thalassa bukan anak kandungnya. Sepanjang masa hidupnya, Trisha belum pernah bertemu dengan orang yang memiliki hati sebesar Rakai. Dia dianugerahi kasih yang begitu besar, sampai-sampai dia mau dengan tulus memperistri seseorang yang mengandung anak dari laki-laki lain. Sebanyak apapun Trisha meminta maaf pada Rakai, sebanyak itu juga Rakai berkata kalau tidak ada yang perlu dimaafkan untuk apa-apa saja yang sudah terjadi.

Karena bersama Trisha, Rakai bisa memiliki Thalassa dan itu sudah cukup buatnya.

“Kai.” Setetes air mata Trisha jatuh dari sudut matanya. “I love you. I really do.”

“Me too, Sweetheart. Me too.” Rakai mengusap pelan air mata Trisha yang jatuh dengan ibu jarinya. “I love you and I always do.”

“Maaf lagi soal Hadrian.”

“Stop say sorry. We’ve been together for years and it’s enough for you to say sorry. You did nothing wrong, Love.”

Trisha terdiam. Kedua matanya yang sayu menatap lurus pada mata cokelat Rakai yang menyorot hangat dan penuh cinta.

“Di hadapan Tuhan, aku membuat janji untuk selalu bersama kamu dalam keadaan apapun. Di hadapan Tuhan, aku membuat janji untuk selalu menjaga Thalassa dalam keadaan apapun juga. I will always love, protect, and cherish both of you until my last breath. Always and forever. I promise.” Rakai kembali mencium tangan Trisha yang dia genggam, kali ini tepat pada memar keunguan di pergelangan tangannya yang dia dapatkan dari efek samping kemoterapi. “Aku beri dia nama Thalassa Daneshwara. Thalassa yang punya arti sama dengan arti nama yang aku punya. And Daneshwara is my last name, and I gave it to her, therefore she is my daughter. And she’ll always be my daughter.”

Rakai mungkin hanya ayah di atas kertas untuk Thalassa. Tapi cintanya, kasih sayangnya untuk Thalassa sama besarnya dengan cinta dan kasih sayang yang dimiliki oleh seluruh ayah di dunia kepada anak-anak mereka. Tidak peduli Thalassa itu darah dagingnya sendiri atau bukan, sejak anak itu lahir, Rakai selalu melimpahinya dengan semua cinta dan kasih sayang yang dia punya.

The difference between a ‘man’ and a ‘father’ is that the former shares his genes, but latter gives his life.

Rakai has give his life to Thalassa, that makes him her father. And Hadrian Wirasena is just her father by birth only and no power on earth will ever make that sufficient.

“Are you stay here tonight?” Pertanyaan Trisha memecah pikiran Rakai.

“Aku tadi ngehubungin Thalassa, bilang nggak jadi jemput dia dan minta dia menginap di rumah Basil dulu selama aku menemani kamu di rumah sakit, dan dia nggak keberatan. Aku juga sudah telepon Wendy, katanya dia juga nggak masalah kalau Thalassa tinggal di rumahnya dulu sementara. Dia malah senang kalau Thalassa ada di rumahnya.”

“Tumben kamu nggak khawatir kalau Thalassa terlalu sering menghabiskan waktu sama Basil.” Trisha terkekeh pelan. “Biasanya kamu yang paling defensif kalau mereka suka main ke kamar dengan alasan kalau mereka bukan lagi anak kecil yang dulu suka mandi bareng di kolam tiup di halaman belakang rumah.”

Rakai ikut tertawa kala mengenang sebentuk kenangan itu. “Karena Basil itu keturunannya Cakra—international playboy yang udah terkenal berengsek sejak dulu. Aku cuma khawatir kalau keberengsekannya menurun ke Basil.”

“Cakra kan nggak seperti itu lagi sejak dia ketemu Wendy.”

“Tapi gennya kan tetap ada dan siapa tahu menurun ke anaknya.”

Trisha tersenyum lebar. “I trusts him, Kai. So are you. Basil kan sudah bersama Thalassa sejak mereka masih sama-sama baru bisa tengkurap. Nggak mungkin Basil akan melakukan hal yang buruk sama Thalassa. Dengan sifat yang seperti itu, ditambah dia pernah jadi atlet cilik bidang olahraga taekwondo, Basil pasti lebih memilih buat nggak macam-macam sama Thalassa daripada kena hajar sampai tulang-tulangnya remuk.”

“Galaknya Thalassa benar-benar dia warisi dari kamu.”

Trisha tahu itu. Seperti bagaimana dia tahu kalau sifat pemberontak Tala berasal dari pihak ayah kandungnya.

Lihat selengkapnya