Bluebonnets I: The Flower

Sinta Aulia
Chapter #2

Bab 01: Plane Crash

[Edited]

Yogyakarta, 1 April 2021.

Jika ada yang bisa menebak takdir, bisakah kita menyebut merekalah si superior itu? Jika ada yang bisa menghentikan waktu, bisakah kita merasakan kekuatan mereka? Tentu saja tidak, dan tidak akan ada yang pernah bisa memiliki itu di luar kuasa kita sebagai seorang manusia biasa.

Saat ini orang-orang memang sedang tertawa-tawa penuh bahagia mengetahui sebentar lagi pesawat mereka akan segera take-off menuju ke negeri yang telah lama mereka rindukan.

Tapi siapa yang bisa menebak bahwa ternyata takdir membawa mereka kepada kematian beberapa jam kemudian?

Pesawat dengan nomor penerbangan NB-717 rute Melbourne-Yogyakarta itu melesat tajam membelah pekatnya malam pukul satu.

Semua orang terbangun dari tidur saat turbulence mulai terjadi, oksigen menipis drastis, saat itu badan pesawat sudah mengalami gagal fungsi seratus persen. Pilot dan kopilot sudah tidak mampu mengendalikannya lagi.

Mereka berpasrah diri, juga para penumpang di dalamnya saat badan pesawat terus melesat tajam ke bawah sana dengan kecepatan gila-gilaan.

Jeritan, tangisan, dan doa seketika mengagung, terpatri di dalam hati bahwa mereka cuma bisa berserah diri jika suatu waktu nanti dipulangkan kepada Tuhan dalam keadaan seperti ini.

Tidak terkecuali dengan Brittany, cewek itu sudah berpasrah kepada penciptanya. Dia genggam erat masker oksigen yang memberinya bantuan napas—walaupun terlihat sia-sia—sambil berdoa dalam hati.

Dia pulang mau bertemu dengan Awan Rajaswa Maharaja, pacarnya yang sudah enam bulan lamanya tidak dia temui batang tubuhnya karena pendidikan S2-nya yang mengharuskannya berpisah dengan sosok itu.

Pesawat semakin melesat tajam. Badan pesawat terguncang tatkala bagian depannya mulai menabraki batang-batang pohon yang berdiri kokoh.

Pesawat kian masuk ke dalam, menabrakkan diri tanpa henti, merusak setiap pohon, sehingga membuat sayapnya patah, mempenyokkan bodinya, memecahkan kacanya, dan hingga pada akhirnya menghancurkan seluruh bagiannya.

DUARR!

Ledakan terjadi sangat dahsyat dini hari itu. Ledakannya mampu memecah cakrawala, membuat nyala oranyenya terpancar dari puncak gunung yang masyarakat Yogyakarta kenal dengan 'Gunung Hantu'.

---

Kantor SAR, pukul 03.24 AM.

Awan berlari membelah hiruk-pikuk warga kantor yang sedang ramai-ramainya dengan peralatan mereka untuk segera berangkat menuju lokasi jatuhnya pesawat NB-717.

Nama lengkapnya, Raden Mas Awan Rajaswa Maharaja, cowok keturunan ningrat dari kerajaan kuno di Yogyakarta. Anak kedua dari silsilah keluarga Maharaja generasi ke-17. Sering dianggap anak pungut karena doyan tinggal di rumah reyot dan tidak berprestasi karena lulus dari universitas kurang ternama, alih-alih dengan kakaknya yang lulus dari universitas Top 3 di dunia. Well, dalam keluarga pasti ada satu yang tidak mewarisi gen keluarga, yakni Awan contohnya.

Cowok berusia 22 tahun itu dengan lihai menyela-nyela para anggota yang akan ditugaskan turun lapangan, sampai di lokasi yang dituju, Awan rebut lembaran kertas yang dipegang oleh Arzy—kapten tim 3, yang merupakan tim yang saat ini Awan berada—berisikan daftar nama penumpang yang terdaftar di pesawat NB-717.

Dengan cepat Awan balik setiap halaman kertas-kertas itu sembari membaca setiap nama yang ada di sana.

Pasalnya, pacarnya bilang, dia akan tiba di Jogja pagi hari. Harusnya ini adalah penerbangan milik ceweknya itu. Namun—

Jemari Awan berhenti menelisik. Pandangannya berhenti pada satu nama. Ya, satu nama yang harusnya tidak ada di sana.

Brittany Raharja.

Sial.

Lihat selengkapnya