Awan jatuh terpaku di tempat. Dia meringsut mundur secara kontan tatkala sosok bergaun putih di bawah lutut itu membelalak waspada ke arahnya.
Tangan itu cewek itu lempar ke sembarang arah sambil bergegas bangkit berdiri. Awan ikut melakukan hal yang sama.
Keduanya dalam jarak saling waspada.
“Siapa kamu?” tanya Awan mencoba sopan dan formal. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini detak jantungnya berdetak gila-gilaan. “Ngapain kamu di sini? A-apa itu tadi di tangan kamu?”
Pertanyaan mencecar itu diberikan kepada cewek cantik berkulit putih tersebut. Panggil saja dia Senja, yang lengkapnya Senja Retisalya.
Senja terlihat menggeram, dia terlihat defensif terhadap Awan sekarang. Awan, cowok itu semakin waspada.
“Tenang, tenang. Aku tim SAR. Kamu nggak perlu takut, aku cari orang di sini.”
Seperti percuma menjelaskan, Senja masih terlihat takut terhadapnya, juga marah. Apa, apa?
Grrr!
Senja mencoba mencakar Awan, tapi Awan dengan gerak refleksnya langsung menghindari itu. Di detik berikutnya, Senja melakukan hal itu kembali, membuat Awan berkelit sekali lagi.
“Hei, tenang!” seru Awan. “Aku nggak akan nyakitin kamu! Kamu nggak perlu takut. Oke?”
Senja abai, dia kembali menyerang Awan. Kali ini mereka dalam posisi yang sangat sialan. Senja sebagai sang penyerang, dan Awan yang dalam posisi diserang.
Berulangkali Awan coba untuk menghindari cakaran Senja, hingga kemudian Awan banting tubuh Senja, tapi dengan cepat Senja membalas Awan dengan melakukan guntingan, membuat keduanya jatuh berdebum ke lantai pesawat.
Awan terengah-engah. Dia bangkit cepat dan langsung ngacir menuju semakin dalam ke kabin lainnya. Bau darah semakin pekat. Tapi perset—
Senja melompat ke arah Awan.
Mereka berdua jatuh ke lantai lagi. Tapi kali ini posisi itu semakin sialan, yang di mana Awan jatuhnya ke antara mayat-mayat yang badannya telah membusuk dan tidak utuh.
Awan menjerit karena hal itu. Tapi seolah tidak membiarkan Awan kaget sejenak saja, Senja tunjukkan kedua taring layak vampirenya yang tajam ke arah Awan.
“SHIT!” jerit Awan.
HT-nya terlempar.
Krrssk. “Awan. Kenapa?”
Itu suara Arzy.
Ingin Awan berteriak ‘tolong’ tapi sepertinya nihil untuk menjangkau HT-nya. Senja menindihnya kuat-kuat sembari terus mencoba meraih senter di kepalanya. Tidak, bukan—!!
Senja gores sedikit dada kiri Awan hingga mengeluarkan darah segar menggunakan kukunya yang sangat tajam. Cowok itu menjerit. Awan dorong tubuh Senja yang kuat hingga membuat cewek itu terpenyal menghantam dinding pesawat. Maafkan Awan, dia hanya mau membela diri.
Awan buru-buru beringsut menempelkan punggungnya ke kursi penumpang. Dia usap dada kirinya yang mengeluarkan darah segar.
“Lo itu apa?!” teriak Awan. “Kenapa lo lakukan ini ke gue?!”
“Kamera itu merekam gue, kan?” tanya Senja dengan suara rendahnya.
“Akhirnya lo bicara! Gue pikir lo bisu!” cerca Awan. “Iya, di sini ada kamera yang merekam kedzoliman lo ke gue saat ini!”
“Gue mau itu dihapus sekarang juga.”
Awan tertawa garing. Dia usap wajahnya yang kotor.
“Shitman. Lo bakalan abadi di sini. Semua atasan gue lihat lo!” sembari menunjuk ke arah kamera di atas senter di kepalanya.
“Selagi aku masih baik padamu, hapus rekaman itu.”
“Ya nggak bisalah!” sewot Awan. “Orang ini,” menunjuk kamera di kepalanya dengan sorot muak, “Langsung tersimpan di database.”
Senja mengepalkan kedua tangannya. Giginya bergemeretak. Taringnya tumbuh semakin terlihat oleh Awan satu setengah meter di depan saja. Awan merinding sebadan-badan, tidak, dia nyaris gemetaran sekarang.
“Hapus.” Suara Senja menggeram marah. “HAPUS!!!”
Cewek Retisalya itu berteriak murka. Satu detik berikutnya, Awan terkesiap. Dia refleks mundur saat Senja mulai menghapus jarak di antara mereka.
“Tenang, tenang! Woi! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” ujar Awan mencoba berkompromi—yeah meskipun kedengaran sedikit useless. “Kita nggak perlu saling serang, kita bisa komunikasikan ini secara tertutup. Gue akan matikan kamera ini.”
Sial, Awan seolah seperti akan mengorbankan pekerjaannya demi meredakan amarah cewek itu. Pasalnya, atasannya sudah pasti mendengar percakapan itu. Sudah pasti.
“PEMBOHONG!” teriak Senja. “Manusia tidak ada yang bisa dipercaya!!”
Awan membelalak kaget. Senja merangsek kian cepat menuju dirinya. Awan dilanda panik—cewek itu apa? Kenapa dia bertaring? Kenapa dia terlihat sangat defensif seperti layaknya seekor hewan?—saat Senja mulai mendekat dan melempari barang apa pun ke arahnya.
Sebuah koper dilempar oleh Senja. Awan menyaksikannya, saat cewek itu dengan mudah mengangkat koper yang sudah pasti berat itu lalu melemparkannya kepadanya seolah-olah itu adalah bola kasti!
Shit.
BRUK!
Awan berhasil mengelak. Merasakan adanya tanda bahaya yang kian nyata, Awan bergegas untuk berbalik, dia berlari sekuat tenaga menjejak apa pun yang ada di dalam kabin. Nanti dulu penyelamatannya, dia harus selamatkan dirinya sendiri dulu!!
Awan tersandung, nyaris terjatuh. Kali ini dis berhasil keluar dari badan pesawat. Memasuki hutan, Awan berlari sekencang yang dia bisa saat Senja juga melakukan hal yang sama.
Beberapa kali Awan menoleh ke belakang, figur Senja terlihat santai berjalan dengan langkah yang besar-besar.