Bluebonnets I: The Flower

Sinta Aulia
Chapter #4

Bab 03: Brittany's Funeral


Hari ini matahari bersinar cerah. Semburatnya tidak terlalu menyilaukan ataupun terlalu redup. Dan pada hari ini, duka menyelimuti pemakaman Brittany. Awan hadir di sana, juga teman-temannya seperti: Langit, LJ, Arzy dan Prim.


Bersama dengan pakaian hitamnya, Awan berdiri tidak tegap di sana. Lumayan jauh dari letak makam. Tidak tahu mengapa kenapa cowok itu melakukannya. Yang pasti, dia tahu dia tidak pantas bersisian dengan kedua orang tua Brittany.


Setelah proses pemakaman selesai, masing-masing orang mulai meninggalkan area pemakaman. Hingga kemudian hanya menyisakan kedua orang tua Brittany serta Awan dan keempat temannya.


Awan hampiri kedua orang tua Brittany, berniat untuk memberi salam. Tapi, mereka berdua hanya berdiam diri tanpa ada niatan sama sekali untuk menyambut uluran tangan Awan.


Canggung, Awan menarik kembali tangannya. Dari bawah pohon sana, Langit, Arzy, LJ dan Prim terlihat sedikit gondok dengan perlakuan kedua orang tua Brittany pada Awan.


Pasalnya, apa sih kurangnya Awan? Awan kaya raya, pekerjaannya bagus, meskipun mukanya agak pas-pasan dan selera humornya anjlok. Tapi, siapa yang coba menolak Awan? Yah, banyak sih. Menurut LJ, ya. Oke, cukup.


“Saya turut berdukacita, Tante,” ucap Awan dengan suara tulus.


Mamanya Brittany tampak memandangi Awan sedemikian rupa. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, menyaksikan baju murahan yang dipakai oleh Awan di pemakaman putrinya.


“Tolong dipake parfumnya,” ucap Mamanya Brittany.


Awan kaget kentara. Dia pun samar-samar mencium baju hitamnya. Wangi, kok. Wangi buah-buhan, tapi—


“Saya pake kok, Tante.”


Mamanya Brittany mengerling.


“Denger ya, Awan. Jangan kamu pikir selama ini saya menerima kamu sama Brittany. Melihat dari status kamu yang sepertinya kurang punya apa pun itu, saya harap kamu sadar diri kalau selama ini saya cuma terpaksa membiarkan kamu bergaul dengan anak saya. Anak saya sempurna, dia berkuliah di universitas bagus, kaya raya, dan tahu manners. Saya berusaha untuk tidak benci kamu, tapi sepertinya tidak bisa. Kamu orang miskin, tidak pantas bersama anak saya.”


“Bangsat.” Langit lempar rokoknya ke tanah, menginjaknya lalu segera merangsek maju ke arah Awan dan kedua orang tua Brittany. Mengabaikan seruan-seruan dari ketiga temannya, Langit pun sampai dan segera menarik bahu Awan untuk mundur selangkah.


“Heh, Tante, denger ya!”


“Ngit.”


“Saya tahu Tante lagi berduka. Tapi tolong, sikap tante itu terlalu kasar dan tidak bermoral. Itu menyakiti perasaan temen saya. Asal tante tahu nih ya, karena tante gali informasinya kurang dalem sini biar saya kasihtahu aja. Awan juga sebenernya nggak setara sih jika harus dibandingkan dengan anak tante. Denger-denger perusahaan tante lagi bekerjasama ya sama perusahaan keluarga Maharaja? Nih saya kasih tahu, itu punyanya orang tua Awan.”


Detik itu juga, kedua orang tua Brittany terhenyak di tempat.


“Kita pamit.” Langit tarik baju Awan dan segera enyah dari sana.


Bagaimana tidak? Kedua orang tua Brittany hanya tahu kalau Awan adalah orang miskin yang cuman punya pekerjaan sebagai PNS saja, tapi tidak disangka, itu membuat mereka berdua terlalu abai sehingga tidak menyadari fakta sebenarnya dari siapa orang yang memacari anaknya.


“Ngit, nggak perlu kali sampe segitunya,” tutur Awan.


“Nggak terima gue sialan. Lo sahabat gue dimaki-maki kayak gitu.”


“Kan udah sering…”


“Ya itu lo TOLOL!”


Arzy, LJ dan Prim tertawa terbahak-bahak.


“Sialan, ngakak banget gue pwis,” kekeh Prim sambil memegangi perutnya.


“Sesayang-sayangnya gue sama cewek nih ya, nggak akan mau gue kalo diinjak-injak begitu.”


“Bukannya gitu, Ngit—”


“Bukannya gitu apa, anjg!”


“Lur, udah lur. Ayo makan,” lerai Arzy.

Awan hanya tersenyum tipis setelah itu.


---


Hari ke-21, sudah hampir satu bulan berlalu sejak insiden jatuhnya pesawat NB-717 yang telah menewaskan 200 penumpang termasuk pilot dan kopilot. Tepatnya hari ini adalah tanggal 21 April 2021.


Ke-200 penumpang sudah disemayamkan oleh masing-masing keluarga yang ditinggalkan.

Awan saat ini sedang ada di kediamannya yang terletak di sebuah gang buntu yang cuma dihuni oleh tiga rumah saja; rumahnya sendiri, rumah Langit, dan rumah anak SMA galak tepat di seberang rumahnya, bernama Izzati Putri. Sering Langit dan Awan panggil dengan nama Izzat sih.


Awan mematut diri di sofa. Dia kembali menggelontorkan uang untuk kembali ke konter dan membeli ponsel baru dengan merk yang sama.


Berkat kejadian lampau itu, ponselnya rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Juga hilang di hutan. Jadilah dia membuat cicilan baru atas nama Langit.


“Pinjem duit dong, Ngit,” ucap Awan dengan nada memelas lewat sambungan telpon yang terhubung dengan Langit di samping rumahnya. Sambil menggigiti kukunya, Awan menyalakan TV-nya di ruang tamu temaram itu. “Bayar cicilan wifi sama beli rokok. 300k aja. Gajian langsung gue ganti.”


“Ah sianjing. Ya udah norek!”


“Lu minta norek kayak kagak pernah TF ke gue aja.”


“Ngelunjak, anj! Ya udah entar gue TF.”


“Iya, Ngit. Kalo boleh agak cepetan ya, gue ngebet banget nih mau ngerokok. Soalnya udah seharian enggak ngerokok.”


“Iya, Nyet!”


“Thanks ya, Langit ganteng.”


“JOMOKGILA!”


Awan terkekeh lalu segera mematikan sambungan telponnya.


Sejenak ia arahkan matanya pada tontonan di televisi yang tengah menampilkan berita malam hari.


Hening, karena belakang rumah Awan itu hutan. Awan berniat untuk membeli mie instan di warung beserta rokok, dia pun bangkit dari sofa dan pergi keluar bersama motornya.


Ting!


Notifikasi transfer uang masuk ke ponselnya. Awan tersenyum tipis lalu melenggang keluar bersama dengan motor Scoopy hitam-putihnya menuju ke luar gang.


Sampai di depan warung, Awan letakkan popmie-nya ke atas meja bulat lalu memantik rokoknya. Awan duduk bersandar di kursi, kemudian mengembuskan asapnya ke udara.


Fyuuh~


Seperti hidup kembali.


Eh? Awan terhenti sebentar setelah beberapa kali hembusan. Dia jadi teringat kejadian malam tanggal 3 April lalu. Saat dirinya bertemu dengan sosok cewek berambut keriting panjang, kulit putih, cantik, dan mengerikan. Lalu mereka kejar-kejaran, hingga kemudian—SCRATT!


Yeah, pas bagian Senja menggoreskan kuku-kuku panjang ke dadanya.


Deg.


Awan terperanjat di tempat. Ia refleks memegang dadanya yang seketika terasa sangat sakit.


Kemudian, ingatan itu membawa Awan ke detik di mana ia terhempas ke udara, jatuh berguling-guling bersama Senja dan berakhir menjatuhi sebuah pasak yang menancap di dasar jurang.


Deg, deg.


Awan refleks memegangi ulu hatinya yang tiba-tiba nyeri. Dia genggam ulu hatinya kuat-kuat. Sial, sakit sekali. Cowok berponi depan seperti style orang-orang Korea itu berhenti menyesap rokoknya.


Dia raih popmie di atas meja lalu berdiri dan segera bangkit menuju motornya, meletakkan popmienya ke pijakan kaki lalu menyalakan mesin motor, hingga kemudian melesat meninggalkan warung.


Sang ibu warung keluar dan berteriak, “Mas, belum dibayar!” Tapi telat, Awan sudah menghilang dari sana. “Aduh gimana sih. Aneh banget tuh orang! Mas!!”


---


Awan berhentikan motornya du pinggir jalan. Dia muntahkan perutnya yang sejak siang tadi tidak diisi oleh makanan. Tapi yang keluar malah darah.


Awan terbatuk keras, dan kali ini darah itu keluar semakin banyak.


Awan bersandar di tanaman persis seorang tunawisma. Dia buka aplikasi WhatsApp dan lekas menelepon Langit.


Tutt… tut…


“Paan anj! Gue lagi ngerank!”


“Ngit. Tolong, Ngit.”


“Tolong apaan!” seru Langit dengan nada nyolot

.

“Gue muntah darah, Ngit.”


“Ah, lu sih kebanyakan ngerokok!”


“Enggak, jemput gue plis.”


“Kayak cewek aja sih, Aw! Sophie aja nggak minta jemputin kayak lu!”


“Gue serius. Pusing banget ini.”


Di seberang sana, Langit mendecak. Awan doyan sekali merepotinya. Dia seperti jadi seorang kakak yang selalu direpotkan oleh adiknya, yakni Awan.


Langit lekas bangkit dan segera AFK dari permainan. Sedang di seberang sana, Arzy yang notabenenya sedang mabar lantas mendecak, “Jing! Si babi AFK!”


Awan bersandar sambil memegang ulu hatinya yang nyeri. Setelah mengirimkan shareloc pada Langit, dia pun memejamkan mata sebentar. Padahal dia belum ada makan apa pun.


Asam lambung? Awan tidak punya penyakit itu. Meskipun pola hidupnya jauh dari kata sehat sekalipun.


Lima menit kemudian Langit tiba di tempat. Dia langsung turun dari motor dan menghampiri Awan.


“Woi, Nyet. Lo kenapa woi!”


“Nyet, nggak enak badan gue, Nyet. Apa gue hamil.”


“Si babi. Lo abis ngapain dah?!”


Lihat selengkapnya