Bluebonnets I: The Flower

Sinta Aulia
Chapter #5

Bab 04: Read Between the Lines


Hari ke-22, tanggal 25 April 2021, puku1 20.10 PM.


Tepat satu jam setelah menemani Prim ke toko buku buat beli novel yang baru rilis, di sinilah Awan berada.


Di depan sebuah gang sunyi yang letaknya agak jauh dari keramaian kota. Baru tahu Awan di sini ada gang sempit.


Di palangnya yang cuma terbuat dari kayu bertuliskan ‘Gang Mawar’, plakat jalan tersebut nyaris tidak kelihatan jika tidak dilihat dalam jarak yang dekat.


Dengan celana oranye dan baju kaos hitamnya, cowok itu tidak turun dari motor, itu sudah berlangsung selama menit untuk berpikir: apakah ia harus turun atau tidak? Masuk atau tidak?


Ditambah tidak adanya penerangan jalan, Awan semakin membulatkan tekad untuk tidak melenggang masuk gang begitu saja. Apalagi tempat ini seperti terbengkalai begitu saja.


Dari titik di maps, alamatnya benar sih ‘Kastil Hitam’. Tapi tempat apa itu? Kenapa ada di maps?

Awan sibuk berkelut dengan pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari bahwa hujan telah turun dengan derasnya.


Mendecak sedikit, dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam gang dan seketika menepi di depan sebuah rumah bercat hitam tanpa gerbang horror berlumut yang biasanya ada di cerita-cerita vampire.


Awan bersama helmnya pun berlari pelan untuk naik ke atas teras rumah tanpa lampu itu. Hujan turun sangat lebat, membuat atmosfer seketika menjadi dingin. Mana Awan tidak bawa jaket lagi.


Ponsel Awan bergetar. Mamanya Brittany meneleponnya. Skeptis, cowok itu pun mengangkatnya dan meletakkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.


“Halo, Tan?” sapanya duluan.


“Awan, kamu di mana?”


“Di rumah, Tan. Ada apa, ya?”


“Kamu bisa jemput Brigitta, nggak? Satu jam lagi pulang dari kampus.”


“Ah…”


“Iya, dia ada kelas malam tadi masuk jam tujuh, pulang jam sembilan katanya. Bisa jemput, nggak?”


Awan memainkan bibir. Duh, dia lagi ada di antah berantah. Tapi masih satu jam lagi, kan? “Oh, oke, Tante. Nanti saya jemput.”


“Makasih, ya.” Tut. Panggilan pun diakhiri oleh Mamanya Brittany. Ini berlangsung semenjak Brigitta—adiknya Brittany—masuk universitas. Mamanya doyan sekali menyuruh-nyuruh Awan untuk menjemput, tapi Awan bahkan sama sekali tidak keberatan akan itu.


Sampai sekarang pun, ketika Brittany sudah berpulang, Awan sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya.


Awan sakukan ponselnya. Dia kembali berdiri dan melepas helmnya. Dari kejauhan di depan, sesosok berjubah hitam muncul—di antara derasnya hujan. Awan memicing, dan sedetik kemudian ia terperanjat.


Itu siapa deng?!


Sosok itu menaiki anak tangga menuju teras. Dia menyibak tudung kepalanya. Dan Awan dapat melihat siapa sosok di balik jubah hitam itu. Dia Mera, si cewek rambut burgundy.


Awan berhenti terkesiap. Ada 1% kelegaan saat tahu sosok itu adalah sosok yang familier.


“Masuklah,” ucap Mera.


Hingga Mera membuka pintu pun, Awan tetap bergeming pada posisinya.


“Tak apa. Di luar dingin.”


“Ini rumah lo, atau rumah siapa?” tanya Awan.


“Rumah tuanku.”


“Siapa tuan lo?”


Mera tersenyum tipis. Dengan sorot menenangkannya, Awan bergerak untuk mendekati pintu. Mera masuk ke dalam, lalu diikuti Awan yang membuntut di belakang tubuh Mera yang tingginya hanya 165 cm, terpaut 22 cm darinya.


Pintu menjeblak tertutup saat Awan dan Mera sudah sepenuhnya berada di dalam. Awan refleks segera menghampiri pintu dan menarik-nariknya, berharap jika pintu itu tidak terkunci. Tapi rupanya terkunci.


“Buka,” titahnya kepada Mera. “Tolong buka!”

Awan jelas ketakutan. Terlihat dari gelagatnya. Apalagi masuk ke dalam rumah orang asing dalam keadaan terkunci. Dan, apalagi Awan tidak tahu siapa mereka, dan apakah mereka manusia atau bukan. Ini jelas alarm bahaya!


Aksi Awan sia-sia.


Tuk tuk tuk!


Suara tapak sepatu terdengar menuruni anak tangga. Percikan kilat menjadi satu-satunya pencahayaan pada ruangan gelap gulita ini.


“Gue mau pulang aja,” tandas Awan. Kamu berharap apa, Awan? Sudah terlambat.


Suara tapak sepatu itu terdengar jernih. Sesosok berjubah hitam-merah tampak terlihat sudah tiba di bawah. Dia duduk di sofa yang tergeletak di tengah ruangan amat luas tersebut.


“Buka pintunya! Lo!” Awan menunjuk Mera. “Buka.”


“Izglezhda uplashena, Mera. Prosto go iz prati u doma.” Suara itu bernada bariton. Dia tertawa jernih di tengah senyapnya ruangan yang gelap. [Sepertinya dia ketakutan, Mera. Pulangkan saja dia ke rumah.]


“Toy e chovekut, My Majesty,” ucap Mera dengan suara pelan sedikit membisik ke arah sosok cowok berjubah hitam tersebut. Tapi pakaiannya sarat seperti seorang yang berada di pemerintahan masa kerajaan. [Dia orangnya, Tuan.]


Cowok itu, rambut hitam keemasan, mata biru laut, rahang tegas, serta kulit putih, menatap Awan dengan sorot meneliti. Sampai ia harus memiringkan kepalanya untuk bisa memahami bagaimana ini bisa terjadi. Tepatnya, bagaimana orang sesuci Senja bisa memilih orang secara sembarangan.


Awan bergeming pada posisinya memegang kenop pintu raksasa itu. Jujur, Awan tidak paham mereka ngomong apa.


“Aku bisa berbahasa Indonesia kok. Kau tidak perlu bingung begitu.” Ah, ya. Baguslah kalau begitu.


“Maaf, sepertinya kalian salah orang. Tolong, buka pintunya. Gue mau pulang.”


“Santai saja, jangan takut. Di luar masih hujan deras,” ucap cowok berambut hitam keemasan itu dengan senyum tipisnya. Dia berdiri, lalu berjalan hingga kemudian meraih sebuah samurai yang tergeletak di dekatnya.


Sriing! Bunyi tajam dan kilatannya sontak membuat Awan membelalak. Apa? Awan mau dimutilasi, kah?


“Duduklah.”


Semesta, cowok berparas ganteng paripurna itu tiba di hadapan Awan. Membuat cowok 22 tahun itu spontan langsung menjauh.


Semesta memutar kedua kakinya menghadap Awan dengan penuh wibawa. Senyum tipis tidak pudar dari bibir tipisnya. Justru itu yang menakutkan bagi Awan!


“Gue nggak punya urusan dengan lo semua. Gue cuma manusia biasa, kok.”


“Benarkah?” respons Semesta. “Kurasa tidak begitu.”


“Buka pintunya, tolong.”


“Berlututlah.” Ucap itu meluncur begitu saja dari bibir Semesta. Sorot waspada Awan berubah jadi dingin. “Atau katakan bahwa kau memohon padaku.”


Absolute cinema.


“Tak kudengar sejak tadi kalimat itu darimu. Do or talk.”


Lihat selengkapnya