Blurb
Tidak semua orang memiliki tempat untuk pulang.
Sebagian hanya punya alasan untuk tetap bertahan, walau retak berbagai sisi.
Raka, seorang arsitek lepas, harus terus bertahan hidup dan menjalani hidup sekeras mungkin sambil merawat kedua adiknya setelah kehilangan orang tua mereka. Baginya, rumah bukan hanya sekedar bangunan luas, dengan perabotan mewah, rumah yang dia inginkan adalah tempat yang tetap menyala walau hidup terus berulang kali padam.
Sedangkan Tara hidup dan tumbuh di rumah besar dan megah, tetapi penuh keheningan. Orang tuanya sibuk, sehingga ia telah akrab dengan sepi sejak kecil. Hingga ia terkadang putus asa, lalu semangat lagi penuh ambisi untuk membangun tempat untuk mereka yang ingin pulang.
Keduanya bertemu di sebuah perlombaan desain rumah impian, dua kepala dengan ambisi yang bertolak belakang disuruh bekerja sama dalam satu tim. Tara yang percaya bahwa kesempurnaan detail dan kemewahan material adalah suatu pondasi bangunan rumah, sedangkan Raka percaya bahwa rumah yang nyaman dibangun dengan hati tulus.
Di antara kertas blueprint, ego, dan idealisme yang saling beradu di tengah, mereka akhirnya menyadari satu hal.
Rumah bukan hanya sebuah tempat untuk kembali dan berlindung dari panas dan hujan. Kadang, rumah menjelma seseorang yang membuat hidupmu tak lagi merasa sendirian.
Terkadang definisi rumah yang sebenarnya bukan hanya tempat, melainkan seseorang yang kau sebut rumah.