Banyak orang bilang, rumah itu adalah tempat untuk pulang. Namun lucunya, di kota ini, justru rumah jadi hal yang paling sulit untuk dimiliki setiap orang. Banyak yang cuman memiliki bangunan bata dengan atap bocor serta impian kecil di dalamnya.
Raka tahu itu, dia sudah banyak menggambar desain denah rumah megah untuk orang lain, tetapi tak pernah benar-benar merancang rumahnya sendiri. Dia sangat hafal harga tanah per-meter yang bisa sangat fantastis nominalnya di setiap sudut kota, dan sangat tahu berapa banyaknya izin bangunan yang harus diselipkan amplop.
Raka juga tahu, impian memiliki rumah di usia muda hanyalah bahan stand-up comedy bagi para pekerja kecil yang hidup dari mengandalkan kopi instan dan deadline kerja yang nggak masuk akal.
Menjadi arsitek muda adalah pilihannya, bukan untuk idealisme, tetapi untuk memberikan tempat ternyaman adik-adiknya yang sudah ditinggal ayah dan ibu terlalu cepat. Rumah sewa dengan atap bocor itu, menjadi tempat pulangnya selama ini. Ya, dan juga untuk bertahan hidup.
Di sisi lain kota, Tara tumbuh di rumah megah nan besar. Begitu besar, hingga saat berjalan gema suara langkahnya terdengar asing mengisi udara. Ada banyak ruangan, taman mini di halaman, kolam renang yang besar, ruang baca dengan buku yang masih banyak belum terbuka. Namun, tidak pernah ada yang benar-benar tinggal dalam rumah itu.
Sepi... Hening... seolah rumah tua yang ditinggal lama pemiliknya. Tidak berdebu, tetapi hawa kesepian akan merasuk dalam jiwa, mengetuk dengan pelan, lalu tumbuh dan bersarang di dalamnya.