Hidup kalau bukan untuk bertahan, untuk apa lagi?
Semua yang ada di dunia, gak jauh-jauh dari uang.
Kerja keras pun belum tentu dapat bagian tinggal di perumahan mewah.
Langit perlahan mulai gelap, menyingkirkan sinar keemasan mentari yang telah menyelesaikan tugasnya. Malam turun seperti tirai jendela yang pengikatnya dilepaskan, menggantikan sore yang tadinya dipeluk kehangatan. Dingin mulai merambat dengan angin yang sedikit kencang.
Lampu kota yang berjajar di setiap jalanan mulai hidup dengan kelap-kelip yang menghiasi malam gelap. Suara langkah kaki terdengar memecah keheningan malam di komplek perumahan sederhana di pinggir kota. Terasa tergesa-gesa karena rintik mulai membasahi tubuh. Tas selempang coklatnya ikut berayun seirama dengan langkah kakinya yang besar. Rambutnya acak-acakan, dengan tangan yang masih menggenggam banyak gulungan kertas coretan gambar. Di antara garis-garis denah pada blueprint, ada banyak harapan dan doa yang ia panjatkan, semoga segera mendapat proyek besar untuk membayar cicilan rumah sewanya yang semakin mendekat.
Saat tungkainya berhasil mendarat di depan teras rumahnya, hujan turun dengan deras membasahi permukaan bumi. Sebelah tangannya ia bawa mengelus dada, bersyukur sampai ke rumah tanpa basah kuyup.
"Fyuh... syukurlah."
Rumah sewa ini telah bersamanya semenjak kedua orang tuanya pergi untuk selamanya. Meninggalkan dirinya dan kedua adiknya terlalu cepat. Sebagai anak pertama, dia bertanggung jawab untuk kedua adiknya yang masih kecil dan sekolah.
"Abang sudah pulang?" suara sedikit nyaring menyapa dirinya yang baru saja masuk ke dalam rumah, melepaskan tas selempang dan meletakkan tumpukan kertas di atas meja. Itu adik pertamanya, yang sedang membawa baskom kecil di kedua tangan untuk diletak di beberapa titik yang bocor.
Rumah ini, sudah lama atapnya bocor. Dan mereka belum memiliki dana untuk sekedar pindah atau memperbaikinya. Pekerjaannya memang menghasilkan uang, tetapi ada kebutuhan lain yang lebih penting.