Baskara terlihat lebih gagah pagi ini dengan sinarnya yang hangat memeluk dingin. Mengetuk dengan pelan jendela besar yang tinggi untuk segera dibuka. Dari celah kecil, cahayanya mulai masuk perlahan, menyinari gelap yang belum terang.
Dering ponsel terdengar nyaring memenuhi ruangan kamar yang masih temaram. Lampu utama masih digantikan oleh lampu tidur yang remang. Menjadikan suasana lebih nyaman untuk tidur. Selimut tebal masih setia menutupi tubuh yang menyelami mimpi indah dengan bunga tidur. Suara nyaring itu benar-benar tidak mengusik tidur nyenyaknya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu terdengar bersahutan dengan suara ponsel yang masih belum berhenti. Menarik paksa kesadaran seseorang yang malas untuk sekedar bangkit dari nyamannya. Tubuh setengah sadar itu dipaksa duduk, sekedar untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu hari damainya.
"Tara!"
Suara itu melengking dari balik pintu cokelat kamarnya yang terkunci. Suara ketukan yang semula pelan, perlahan menjadi lebih kuat seperti memukul-mukul kayu.
"Iya...," lirihnya menjawab panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal hanya dari suara melengking itu. Jawabannya justru tidak menembus pintu kamarnya, karena terlalu lemah.
"Tara! Bangun gak? Gue udah bawa bekal untuk makan..." suara itu menggantung pelan sebelum sebuah ancaman diberikan, "Lima menit belum keluar, gue dobrak pintu kamar lo!"
Yang di kamar berdecak pelan, sebelum akhirnya membawa tubuhnya sendiri untuk ke kamar mandi. Tidak ada niat untuk membalas ucapan yang seperti ancaman itu. Tenaganya belum terisi penuh untuk melawan.
Lima menit waktu yang dibutuhkannya untuk sedikit menyegarkan badan dan mengusir kantuk yang masih terasa. Tirai kamar yang masih tertutup, ia buka lebar untuk memberi masuk cahaya pagi.
Dari jendela sebening embun pagi itu, dia bisa melihat taman bunga yang tumbuh cantik di halaman depan rumahnya. Birainya terangkat kecil membentuk lengkungan tipis, mengingat bunga-bunga itu hasil dari kerja keras yang dia lakukan sejak kecil untuk mengusir bosan dan menunggu pulang orang tuanya.
Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Kedua orang tuanya pulang ke rumah, saat tubuhnya sudah jatuh terlelap di balik selimut tebal yang hangat. Harapan kecil yang tidak pernah terwujud hingga besar, menghasilkan retak yang tidak terlihat. Mungkin hanya satu atau dua kali, mereka bercengkrama hangat sambil makan bersama di meja makan.
Lebih dari itu, hidupnya hanya ditelan sepi di ruangan yang besar. Saat dia menanyakan alasan mengapa sering terlambat pulang, atau kenapa tidak pernah ada di rumah? Mereka hanya berkata ringan seolah itu bukan masalah yang serius, "Kami bekerja untukmu, sayang. Jika tidak, semua ini tidak akan pernah ada untuk kamu nikmati."