Blueprint Pulang

Hala Cia
Chapter #4

Chapter 03


****

Langit biru masih menggantung indah dengan mega putih yang berjajar rapi. Menjelang siang, langit tampak lebih tegas dengan biru yang semakin terang seperti lukisan mahal, penuh cahaya di setiap sudut. Burung-burung kecil terbang beriringan, berkicau riang dengan semangat dan ceria. Yang mendengar justru menikmati nyanyian merdu alam semesta yang alami.

Matahari masih setia menemani kesibukan orang-orang di kota. Berdiri gagah berani, dengan sinarnya yang tak pernah padam walau sebentar. Raka masih setia duduk di ruang depan, dengan jempol tangan kanan yang sibuk melihat-lihat pekerjaannya dalam layar ponsel.

Di meja petak kecil itu, secangkir kopi panas terseduh untuk menemani harinya yang tidak melakukan apa pun. Terlihat dari kepulan asap yang menari-nari di udara.

Ada pula stoples bening dengan tutup warna merah yang sedikit renggang, berisi kerupuk kampung yang dia beli dua hari lalu di warung depan komplek. Makan kerupuk dengan kopi, bisa sedikit mengganjal perut sebelum makan malam nanti bersama kedua adiknya.

Ponsel Raka berbunyi kecil, menandakan satu pesan baru masuk ke dalam ponselnya.

Grup WhatsApp "Komplekan Tampan" tiba-tiba ramai, terbukti dari denting notifikasi yang tidak berhenti berbunyi.

"Oi, Rak! Lo udah lihat info lomba desain rumah impian belum?" Raka membaca pesan dari Didit yang masuk pertama kali saat membuka grup.

Di bawahnya ada balasan pesan dari penghuni grup lain yang sedikit lucu karena merasa tidak dicari oleh Didit. Raka membaca satu per satu pesan yang masuk, lalu berhenti pada pesan gambar yang dikirim oleh Didit.

"Desain Rumah Impian?" Raka mendengus pelan, saat melihat poster yang dikirim Didit. Seseorang yang tinggal tidak jauh, hanya berjarak dua rumah darinya. Mereka kenal sejak Raka pindah ke komplek ini. Umur mereka pun tidak terpaut cukup jauh, sehingga masih mudah untuk akrab dan nongkrong bersama.

Dia membaca poster itu dengan tatapan begitu dalam, pikirannya berkecamuk ketika melihat hadiah untuk pemenang, yang jumlahnya cukup besar.

Raka mengetik balasan pesan dengan begitu singkat, "Biasanya yang beginian lebih jago jual poster daripada hasil."

Satu pesan balasan dari Asep, kembali masuk. "Bisa jadi. Lagian kalau lo gagal pun, ya udah kan? Paling cuma nambah daftar kekecewaan nasional lo sama negara."

Didit juga membalas dengan satu pesan, "Kalau lo ga ikut, siapa lagi? Gak salah juga untuk mencoba, walaupun ragu-ragu."

Raka terdiam cukup lama, Ia sangat tahu pemerintah mereka. Ketika membaca poster dan nama perusahaan yang berdiri di belakangnya, ia sudah mengerti, mereka terkadang terlalu pandai membangun harapan.

"Asli dan bukan tipuan, kan?" ketik Raka di ponselnya.

Tidak lama getaran kecil tanda pesan balasan masuk, kembali terasa di tangannya. "Aman. Gue udah cek langsung ke website-nya. Mana mungkin nipu," balas Didit di grup.

Lihat selengkapnya