Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #1

Rumah yang Tidak Lagi Sama

Aku tidak pernah benar-benar percaya bahwa sebuah rumah bisa berubah hanya dalam satu hari. Namun siang itu, ketika aku mendorong pintu kayu yang sudah kukenal, aku tahu ada sesuatu yang bergeser. Bukan pada dindingnya. Bukan pada kursi-kursi tua di ruang tamu. Bahkan bukan pada bau masakan yang samar masih tertinggal dari dapur. Melainkan pada cara rumah itu menyambutku. Atau lebih tepatnya tidak menyambutku sama sekali.

Langkahku terhenti tepat di ambang pintu.

Suara percakapan terdengar dari dalam, berlapis-lapis, bercampur antara tawa dan bisikan. Terlalu ramai untuk siang hari biasa. Terlalu hidup untuk rumah yang biasanya tenang.

Aku mengerutkan kening.

Siapa saja yang datang?

Aku melangkah masuk perlahan, seperti tamu yang takut salah tempat. Mataku menyapu ruang tamu dan di sanalah aku melihat mereka.

Orang-orang yang tidak kukenal.

Beberapa duduk santai di kursi rotan. Yang lain bersandar di dinding. Ada yang tertawa pelan, ada yang menatapku sejenak lalu kembali berbincang seolah aku tidak penting.

Perasaan aneh merambat di dadaku.

Aku berdiri di sana, di tengah rumah yang biasaku tempati, tapi rasanya seperti orang asing.

“Kinanti?”

Suara itu memecah lamunanku.

Aku menoleh.

Kakak berdiri di dekat meja makan, tersenyum seolah tidak ada yang aneh.

“Kapan pulang?” tanyanya ringan.

“Baru,” jawabku singkat.

Aku menunggu penjelasan. Tentang mengapa mereka. Tentang kenapa rumah ini tiba-tiba penuh. Tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tapi kakak hanya menatapku sebentar, lalu berkata

“Ayo ikut ke Jakarta.”

Aku berkedip.

“...Apa?”

“Liburan,” tambahnya, masih dengan nada santai. “Sekalian refreshing. Kamu kan libur dua pekan.”

Aku hampir tertawa.

“Enggak bisa,” jawabku cepat. “Masih ada urusan di sekolah.”

Jawaban yang sudah kusiapkan bahkan sebelum ia selesai berbicara.

Namun kakak tidak terlihat kecewa. Ia hanya mengangguk pelan. Terlalu pelan.

“Dipikirkan saja dulu.”

Lalu ia kembali ke ruang tamu, bergabung dengan orang-orang itu, meninggalkanku berdiri sendiri dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan.

Aku masuk ke kamar.

Ruangan itu masih sama tempat tidur sederhana, meja belajar dengan buku-buku yang menumpuk, jendela yang menghadap ke halaman belakang. Semua masih seperti yang kuingat.

Namun tetap saja, ada sesuatu yang terasa tidak tepat.

Aku mengambil buku catatan lalu duduk sejenak di tepi tempat tidur.

Padahal rumah ini sedang ramai. Aku bisa mendengar suara mereka dari luar, tapi entah kenapa suara itu terasa jauh. Seperti bukan bagian dari hidupku.

Kenapa aku merasa seperti ini?

Aku menghela napas, mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin aku hanya lelah.

Saat aku hendak keluar, suara kakak kembali menghentikanku.

“Jadi ikut, kan?”

Aku menoleh.

Kali ini ia berdiri lebih dekat. Tatapannya tidak lagi santai.

Lihat selengkapnya