Aku mulai curiga sejak hari keempat. Bukan karena sesuatu yang besar. Justru karena hal-hal kecil yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Besok kita ke Puncak.”
Kakak mengatakannya saat makan malam, seolah itu keputusan spontan. Padahal, cara ia mengatakannya tenang, tanpa diskusi terdengar seperti sesuatu yang sudah lama direncanakan.
“Siapa saja?” tanyaku.
“Semua.”
Jawaban yang terlalu sederhana.
Aku menatap wajah-wajah di meja makan. Mereka mengangguk santai, seperti sudah tahu lebih dulu. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang terkejut.
Hanya aku.
Seperti biasa.
***
Perjalanan dimulai pagi-pagi sekali. Aku duduk di kursi belakang. Dan seperti yang sudah bisa kutebak Roni yang menyetir.
Tidak ada yang menanyakan apakah aku nyaman. Tidak ada yang menawarkan tempat duduk lain. Seolah posisi itu memang sudah ditentukan untukku.
Aku tidak protes.
Tapi aku mencatatnya.
Mobil melaju perlahan meninggalkan Jakarta. Udara berubah, pemandangan berganti, dan suasana di dalam mobil terasa terlalu hidup.
Terlalu cair.
Terlalu akrab.
Mereka tertawa, saling menyela, mengingat hal-hal yang tidak kuketahui. Nama-nama disebut, kenangan diulang, cerita lama dibuka.
Aku tidak ikut tertawa.
Aku tidak tahu harus masuk dari mana.
Sesekali, mataku terangkat. Dan seperti ada pola aku selalu bertemu dengan tatapan itu. Di kaca spion.
Roni.
Tidak lama. Hanya sekilas. Tapi cukup sering untuk membuatku bertanya
Kenapa?
“Capek?”
Suaranya tiba-tiba terdengar.
Aku tersentak.
“Enggak.”
Jawaban singkat. Ia mengangguk. Lalu diam. Namun beberapa menit kemudian
“Kalau pusing bilang, ya.”
Aku tidak menjawab.
Perhatian kecil itu terasa terlalu personal untuk seseorang yang bahkan belum benar-benar kukenal.
Mobil mendadak berhenti. Rem yang terlalu tiba-tiba membuat semua orang tersentak.
“Hati-hati, Ron!” kakak menegur.
“Iya,” jawabnya tenang.
Tapi kali ini, ia tidak langsung melanjutkan perjalanan.
Ia menoleh sedikit ke belakang.
“Kinanti nggak apa-apa?”
Namaku disebut dengan jelas. Aku mengerutkan kening.
“Kenapa nanya aku?”
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya tersenyum tipis.