Aku bangun dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Bukan sedih. Bukan juga marah. Lebih seperti… kosong. Seperti ada sesuatu yang seharusnya ada, tapi tidak pernah benar-benar diberikan sejak awal.
Cahaya pagi masuk dari sela tirai.
Tipis.
Dingin.
Tidak menghangatkan apa pun.
Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi lantai yang sama seperti semalam. Kalimat itu masih tertinggal di kepalaku.
Kamu mirip seseorang.
Aku mengulangnya pelan dalam hati. Berkali-kali. Seolah dengan begitu, aku bisa menemukan jawabannya. Tapi yang kutemukan hanya satu hal aku bukan seseorang yang dilihat apa adanya.
Suara langkah terdengar dari luar kamar. Lalu suara pintu. Lalu suara percakapan.
Cepat. Sibuk. Seolah ada sesuatu yang harus segera dilakukan.
Aku berdiri dan membuka pintu perlahan.
Ruang tengah sudah ramai. Terlalu ramai untuk pagi hari. Tas-tas kecil bersandar di kursi. Jaket digantung sembarangan. Suara orang saling memanggil satu sama lain.
Aku berdiri di ambang pintu. Tidak ada yang menyadari kehadiranku atau mungkin mereka sengaja tidak menyadari.
“Kita berangkat sekarang aja.”
Suara kakak.
“Biar nggak macet.”
Aku mengerutkan kening.
Berangkat? Ke mana?
“Ron, sudah siap?” tanya seseorang.
“Sudah,” jawabnya singkat.
Suara itu.
Roni.
Aku menahan napas.
Menunggu. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang.
Tidak ada yang memanggilku. Tidak ada yang bertanya apakah aku ikut. Tidak ada yang menoleh.
Aku melangkah maju.
Pelan.
“Ke mana?”
Suara itu akhirnya keluar dari mulutku.
Semua berhenti. Sejenak.Hanya sejenak. Lalu kakak menoleh.
“Oh, kamu sudah bangun?”
Nada suaranya ringan. Terlalu ringan.
“Kita mau ke Bandung,” katanya.
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang dari semalam?”
Kakak tersenyum kecil.
“Kamu capek. Jadi nggak kita ganggu.”
Jawaban yang terdengar baik tapi terasa salah.
Aku menoleh ke arah Roni. Ia berdiri di dekat pintu. Memegang kunci mobil. Tatapannya sempat bertemu denganku. Hanya sebentar. Lalu ia mengalihkan pandangan.
Tidak ada ajakan.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada apa-apa.
“Ya sudah,” kata kakak. “Kami jalan dulu, ya.”
Kami.
Bukan kita.
Dan dalam hitungan detik mereka pergi.
Pintu tertutup. Suara langkah menjauh. Mesin mobil menyala. Lalu hilang.
Sunyi.
Aku berdiri di tengah ruangan. Tidak bergerak. Tidak berpikir. Hanya… berdiri. Butuh beberapa detik sampai semuanya benar-benar masuk ke kepalaku.
Aku ditinggalkan.
Aku tertawa kecil. Refleks. Tidak lucu tapi lebih baik daripada langsung menangis.
Aku berjalan ke jendela. Menatap halaman kosong.
Tidak ada mobil.
Tidak ada suara.
Tidak ada siapa pun.
Kenapa?
Pertanyaan itu muncul. Sederhana tapi tidak ada jawabannya.
Aku kembali ke kamar. Menutup pintu. Duduk di lantai dan di situlah semuanya mulai runtuh.
Air mataku jatuh tanpa permisi. Tanpa dramatis. Tanpa suara. Hanya mengalir. Terus.
Aku mencoba mengingat apa yang salah?
Apa aku terlalu diam?