Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin aku yang terlalu ingin hari ini segera berakhir.
Aku duduk di sudut ruang tamu. Lampu menyala redup. Tidak ada suara televisi. Tidak ada percakapan. Hanya detak jam di dinding yang terdengar terlalu jelas.
Roni tidak lagi di depanku. Setelah makan siang tadi, ia menghilang.
Tanpa penjelasan.
Seperti yang lain.
Aku memeluk lutut. Menatap kosong ke arah jendela. Langit di luar gelap. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya bayangan pohon yang bergoyang pelan, seolah sedang berbisik tentang sesuatu yang tidak ingin mereka katakan padaku.
Kamu tamu.
Kalimat itu masih menempel. Lebih kuat dari yang seharusnya.
Aku menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan.
Berulang.
Seolah dengan begitu, perasaan ini bisa ikut keluar.
Tapi tidak ia tetap tinggal.
Pintu depan terbuka. Suara langkah masuk.
Ramai.
Tawa.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Mereka kembali.
Aku tidak berdiri. Tidak menyapa. Tidak juga menoleh.
“Kinanti?”
Suara kakak.
Aku tidak menjawab.
“Sudah makan?”
Masih dengan nada yang sama. Seolah semuanya baik-baik saja.
Aku akhirnya menoleh.
Menatapnya.
Lama.
“Kakak tahu aku ditinggal?”
Pertanyaan itu keluar tanpa rencana.
Langsung.
Tajam.
Kakak terdiam. Hanya sebentar. Lalu tersenyum.
“Kan sudah dibilang kamu capek.”
Aku tertawa.
Pelan.
Tapi kali ini terdengar.
“Lucu ya,” kataku.
“Capek itu alasan untuk ditinggal?”
Ruangan itu hening. Beberapa orang saling pandang. Tidak ada yang membela. Tidak ada yang menenangkan.
Aku berdiri.
“Kalau memang nggak mau aku ikut, bilang saja dari awal,” lanjutku.
Suaraku tidak tinggi tapi cukup untuk membuat semua orang mendengarnya.
“Kamu salah paham,” kakak mencoba meyakinkanku.
“Aku tidak salah paham.”
Aku memotong.
Aku menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Berhenti lebih lama pada satu orang.
Roni.
Ia tidak menatapku.
“Yang salah…,” kataku pelan, “aku terlalu lama diam.”
Aku berbalik. Melangkah pergi.
“Kinanti.”
Suara itu.
Roni.
Langkahku berhenti tapi aku tidak menoleh.
“Aku mau bicara.”
Aku tertawa kecil.
Tanpa humor.
“Sekarang?”