“Kinanti!”
Suara itu memecah malam.
Keras.
Terlalu keras untuk jalan yang sepi.
Langkahku berhenti. Bukan karena ingin tapi karena tubuhku lebih dulu mengenali suara itu sebelum pikiranku sempat menolak.
Aku menutup mata sejenak.
Menarik napas.
Lalu membalikkan badan.
Roni berlari ke arahku. Napasnya tidak teratur. Langkahnya terburu-buru. Tidak seperti biasanya yang selalu tenang, selalu terkendali untuk pertama kalinya ia terlihat kehilangan sesuatu. Dan entah kenapa aku tidak merasa menang.
“Ngapain kamu ke sini?” tanyaku.
Suaraku datar hampir asing bahkan di telingaku sendiri.
Ia berhenti beberapa langkah di depanku.
Menatapku.
Lama.
Seolah ingin memastikan aku benar-benar ada.
“Kamu pergi,” katanya.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Hening.
“Tanpa bilang,” lanjutnya.
Aku tersenyum tipis.
“Kamu juga.”
Kalimat itu jatuh dan langsung mengenai.
Roni mengalihkan pandangan.
Sebentar.
Lalu kembali menatapku.
“Itu beda.”
Aku tertawa.
Pendek.
“Semua orang selalu bilang begitu,” kataku.
“Kalau mereka yang melukai, itu beda.”
Ia menggeleng cepat.
“Bukan gitu maksud aku.”
“Terus apa?”
Suaraku mulai naik. Bukan teriak tapi cukup untuk menunjukkan bahwa aku tidak lagi menahan.
Roni terdiam. Beberapa detik. Lalu akhirnya “Karena aku nggak mau kamu ikut.”
Jujur.
Akhirnya.
Dan itu lebih sakit dari kebohongan.
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa?”
Ia menghela napas. Tangannya masuk ke saku jaket. Keluar lagi.
Gelisah.
“Aku butuh waktu,” katanya.
“Untuk apa?”
“Untuk… mikir.”
Aku menatapnya.
“Dengan menjauh dari aku?”
Ia tidak menjawab.
“Dengan ninggalin aku?”
Masih diam.
Aku mengangguk lagi.
Pelan.
“Jadi kamu lari,” kataku.
Ia menatapku tajam.
“Aku nggak lari.”
Aku melangkah mendekat.