Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #9

Pulang

Aku terpaksa balik ke rumah itu karena tak ada tempat untuk berteduh.

Balik  membawa  beban di kepala.

Tidak oleh-oleh.

Tidak cerita.

Tidak juga penjelasan.

Hanya tubuh yang kembali dan sesuatu di dalamnya yang tidak lagi utuh.

Kehidupan ini terasa seperti ruang kosong yang panjang. Orang-orang naik dan turun. Suara penjual lewat. Anak kecil menangis di kursi belakang. Semua terdengar jauh. Seperti aku tidak benar-benar ada di sana.

Aku duduk di dekat jendela. Kepalaku bersandar pada kaca.

Dingin tapi tidak cukup untuk menenangkan apa yang masih berisik di dalam.

Kamu dipilih.

Kalimat itu datang lagi.

Bukan dari Roni.

Bukan dari Dinda.

Tapi dari sesuatu yang lebih dalam dari kesadaran yang akhirnya tidak bisa kuhindari.

Aku bukan kebetulan. Aku bagian dari sesuatu yang sudah dirancang. Dan itu lebih menyakitkan dari sekadar ditolak.

Aku menutup mata.

Mencoba tidur.

Tapi setiap kali aku hampir terlelap wajah-wajah itu muncul.

Roni.

Tatapannya yang setengah jujur.

Dinda.

Senyumnya yang seperti tahu lebih banyak dariku.

Kakak.

Diamnya yang terlalu rapi.

Dan di belakang mereka semua ada satu wajah yang pernah kulihat walau samar.

Alia.

Aku membuka mata lagi. Menatap pantulan diriku di kaca jendela.

Mirip.

Aku mengangkat tangan. Menyentuh wajahku sendiri.

“Seberapa mirip?” bisikku pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Aku tertawa kecil.

“Aku merasa pernah dekat dengannya.”

Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan.

Aku dibandingkan dengan seseorang yang bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk kukenal lebih dekat.

Perjalanan hidup berlanjut.

Aku berharap jalan ini lebih lama. Bukan karena aku ingin sampai. Tapi karena aku tidak tahu apa yang menungguku di ujungnya.

Langit sudah mulai berubah warna.

Udara menyambutku lebih lembap, lebih akrab.

Aku berdiri sejenak.

Menatap jalan yang hampir kukenal.

Tapi aku tidak tahu.

Keberadaanku di rumah ini terasa berat. Bukan karena lelah. Tapi karena sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Takut.

Bukan takut tidak diterima. Tapi takut bahwa aku tidak benar-benar dimiliki.

Kamu tamu.

Kalimat itu datang lagi.

Aku menggeleng keras.

“Ini rumahnya,” bisikku.

Lihat selengkapnya