Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #11

Bisikan Tidak Utuh

Malam turun perlahan tidak gelap sepenuhnya tidak juga terang. Seperti sesuatu yang belum selesai.

Aku berbaring di tempat tidur. Lampu kamar sengaja tidak kumatikan. Bukan karena takut gelap tapi karena aku tidak ingin sendirian dengan pikiranku sendiri.

Hari ini terasa aneh. Tidak ada yang benar-benar terjadi. Tapi semuanya terasa berubah. Aku memejamkan mata. Lalu membuka lagi. Tidak bisa tidur. Pikiranku terus kembali ke satu hal…Roni.

Bukan pada apa yang ia katakana tapi pada apa yang tidak ia katakan. Ada jeda-jeda aneh dalam setiap percakapan kami. Seperti ia selalu berhenti tepat sebelum sesuatu yang penting keluar. Seperti ia menyimpan sesuatu. Dan aku terlalu sibuk menikmati kehadirannya

untuk mempertanyakan itu.

Aku menghela napas panjang.

Bodoh.

Aku memalingkan wajah ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Udara malam masuk perlahan. Sunyi.

Tiba-tiba suara itu datang lagi.

“Kinanti…”

Pelan.

Hampir seperti angin.

Aku diam beberapa detik, aku tidak bergerak. Perlahan aku bangkit. Mendekat ke jendela.

“Roni?” bisikku.

Tidak ada jawaban.

Aku hampir kembali ke tempat tidur ketika…

“Di sini.”

Suara itu lebih jelas.

Aku menyingkap tirai. Roni berdiri di luar. Di bawah jendela kamarku.

Senyumnya tipis. Seperti seseorang yang tahu ia tidak seharusnya ada di sana tapi tetap datang.

“Ngapain di situ?” tanyaku pelan.

“Cari kamu.”

Jawaban yang terlalu cepat.

Aku mengernyit.

“Kenapa nggak lewat pintu?”

Ia mengangkat bahu.

“Lebih sepi di sini.”

Aku terdiam.

Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuat semua ini terasa seperti rahasia. Entah kenapa aku tidak menolak.

Aku duduk di dekat jendela. Ia tetap di luar. Jarak kami tipis tapi terasa aman.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku tersenyum kecil.

“Banyak pikiran.”

Ia mengangguk.

“Aku juga.”

Angin malam masuk perlahan menyentuh wajahku.

“Apa yang kamu pikirin?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

Lihat selengkapnya