Pagi datang terlalu cepat. Aku tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata, lalu membuka lagi, berkali-kali. Seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu atau menemukan sesuatu yang tidak ingin ia lihat.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai. Tipis. Hangat.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Satu malam. Hanya satu malam tapi rasanya seperti ada sesuatu yang berubah.
Aku mengingat kembali percakapan semalam. Setiap jeda. Setiap kalimat yang tidak selesai. Setiap tatapan yang terlalu lama. Dan satu hal yang paling mengganggu “Aku nggak tahu.”
Jawaban itu terus berulang di kepalaku. Aku berdiri merapikan rambut seadanya. Lalu keluar kamar.
Rumah sudah hidup. Suara piring di dapur. Televisi menyala pelan. Langkah kaki hilir mudik. Semua tampak normal.
Seolah tidak ada yang berdiri di bawah jendelaku semalam.
Aku melangkah ke dapur.
“Pagi.”
Kakak menoleh.
“Pagi. Tumben bangun cepat.”
Aku tersenyum kecil.
“Udah nggak ngantuk.”
Kakak mengangguk tidak curiga atau mungkin tidak peduli.
Aku duduk. Mengambil segelas air. Di situlah aku melihatnya.
Roni.
Duduk di ujung meja. Tenang seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia menoleh dan tersenyum. Senyum yang sama. Tapi entah kenapa tidak lagi terasa sama.
“Pagi,” katanya.
“Pagi.”
Suaraku terdengar biasa.
Terlalu biasa.
“Kamu nggak tidur?” tanyanya.
Aku menatapnya.
Pertanyaan yang sama. Tapi di pagi hari rasanya berbeda.
“Lumayan.” Jawaban singkat.
Ia mengangguk tidak melanjutkan.
Ia berhenti selalu berhenti.
Aku menunduk memainkan ujung gelas.
“Roni.”
Ia mengangkat kepala.
“Iya?”
Aku ragu sejenak.
“Semalam…”
Ia diam.
Menunggu.
“Kamu sering gitu?”
“Maksudnya?”
“Datang diam-diam.”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau perlu.”
Jawaban yang ringan tapi tidak menjawab apa-apa.
Aku mengangguk.
“Dan semalam… perlu?”
Ia menatapku lebih lama dari biasanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar lagi.
“Aku pengen lihat kamu.”
Kalimat itu sederhana.
“Cuma itu?”
Ia terdiam.
“Aku juga pengen ngobrol,” tambahnya.