Ada hal-hal yang tidak pernah diucapkan bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu penting untuk dibuka.
Aku mulai memperhatikan. Bukan lagi sekadar mendengar. Bukan lagi sekadar merasakan. Tapi memperhatikan. Cara orang menatap. Cara mereka diam. Cara mereka berhenti di tengah kalimat. Dan semakin aku memperhatikan semakin aku sadar, aku tidak pernah benar-benar ada di dalam cerita ini.
Pagi itu, aku bangun lebih awal. Bukan karena ingin. Tapi karena tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganjal. Bukan satu hal besar tapi banyak hal kecil yang jika dikumpulkan
membentuk sesuatu yang… tidak bisa diabaikan.
Aku keluar kamar. Rumah masih sepi. Hanya suara pelan dari dapur. Aku melangkah perlahan. Lalu berhenti. Suara itu bukan suara piring. Suara orang berbicara. Pelan.
Aku mendekat tidak sengaja atau mungkin aku memang ingin mendengar.
“…jangan sekarang.”
Suara Dinda.
Aku diam.
“Dia belum tahu.”
Hening sejenak.
“Dan jangan sampai dia tahu dari orang lain.”
Aku menahan napas.
Langkahku berhenti tepat di balik dinding. Aku tidak terlihat. Tapi aku bisa mendengar.
“Aku tahu,” suara Roni.
Lebih pelan.
Lebih berat.
“Makanya aku bilang, kita nggak bisa terus kayak gini.”
Dinda tertawa kecil.
“Kamu yang mulai.
“Bukan aku,” jawab Roni.
Nada suaranya berubah.
Lebih tegang.
“Terus siapa?”
Tidak ada jawaban langsung.
Beberapa detik berlalu. Dan detik-detik itu terasa lebih panjang dari biasanya.
“Aku cuma ngikutin,” akhirnya Roni berkata.
Kalimat itu jatuh pelan tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalamku runtuh.
Ngikutin?
Mengikuti apa?
Mengikuti siapa?
Aku menahan diri untuk tidak bergerak.
“Kalau kamu berhenti sekarang, semuanya jadi sia-sia,” kata Dinda lagi.
Suaranya lebih rendah sekarang.
Lebih dingin.
“Ini bukan soal sia-sia atau nggak,” balas Roni.
“Terus soal apa?”
“Dia manusia.”
Kalimat itu berbeda.