Ada jenis rasa sakit yang tidak bisa ditunjukkan. Bukan karena terlalu kecil tapi karena tidak punya alasan untuk ada. Aku baru menyadarinya hari ini. Cemburu ternyata tidak selalu datang dari kepemilikan. Kadang ia datang dari harapan yang tidak pernah diucapkan. Dan itu jauh lebih menyakitkan.
Perjalanan ke Bandung dimulai pagi-pagi sekali. Langit masih pucat ketika kami berangkat. Udara dingin menempel di kulit. Aku duduk di kursi belakang. Sendiri.
Awalnya aku tidak mempermasalahkan. Sampai aku melihat Roni di depan. Dan Dinda duduk di sampingnya. Bukan di belakang. Bukan di tengah. Di depan. Di tempat yang seharusnya bisa saja… untuk siapa saja. Tapi tidak untukku.
“Kamu di belakang aja ya, biar lega,” kata Kakak ringan.
Aku tersenyum.
“Iya, nggak apa-apa.”
Selalu itu jawabanku.
nggak apa-apa.
Kalimat paling sering kugunakan untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya tidak baik-baik saja.
Mobil mulai berjalan. Aku bersandar ke jendela. Menatap ke luar. Pohon-pohon bergerak mundur. Rumah-rumah berlalu. Semua terasa seperti pelarian. Tapi bukan dari tempat melainkan dari perasaan yang tidak ingin kuakui. Di depan suara mereka terdengar jelas.
Dinda tertawa.
Roni menanggapi.
Percakapan ringan.
Terlalu ringan. Seperti tidak ada beban apa pun. Seperti tidak ada rahasia yang harus disimpan. Aku menutup mata. Mencoba mengabaikan. Tapi suara itu tetap masuk.
“Abang, nanti kita ke tempat yang kemarin ya,” kata Dinda.
“Yang mana?” tanya Roni.
“Yang ada pemandangannya itu… yang kita pernah ke sana.”
Kita.
Kata itu singkat tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalamku tergores.
“Aku lupa,” jawab Roni.
“Ah, masa sih? Yang waktu itu kita lama di sana.”
Roni tertawa kecil.
“Oh, iya. Yang itu.”
Aku membuka mata. Menatap ke depan. Mereka tidak melihatku atau mungkin tidak ingin melihat. Aku menoleh ke luar lagi. Angin masuk dari celah jendela. Dingin tapi tidak cukup untuk meredakan apa yang mulai menghangat di dalam dada.
Cemburu.
Aku menarik napas dalam.
“Bodoh,” bisikku.
Aku tidak punya hak untuk itu. Tidak ada hubungan. Tidak ada janji. Tidak ada apa-apa. Lalu kenapa terasa seperti kehilangan?
Perjalanan panjang. Aku lebih banyak diam. Sesekali Kakak bertanya, aku menjawab seperlunya.
Roni tidak menoleh. Tidak sekali pun. Dan itu anehnya lebih menyakitkan daripada jika ia benar-benar menjauh. Karena ini terasa seperti aku tidak pernah ada.
Kami berhenti di sebuah tempat wisata. Hamparan hijau terbentang luas. Udara segar. Orang-orang berfoto. Tertawa.
Tempat yang indah. Tapi aku tidak merasakannya. Aku berjalan pelan.
Tidak mendekat.
Tidak menjauh.
Hanya mengikuti seperti bayangan.
“Kita ke sana yuk!” Dinda menunjuk ke arah bukit kecil.
Semua setuju.
Aku mengangguk. Lagi-lagi ikut.
Kami berjalan. Aku di belakang. Melihat punggung mereka. Melihat cara Dinda sesekali menyentuh lengan Roni. Melihat bagaimana Roni tidak menolak. Di situlah sesuatu pecah.
Pelan. Bukan ledakan. Tapi retakan yang akhirnya terdengar.