Ada saat di mana seseorang berhenti bertanya. Bukan karena sudah menemukan jawaban tapi karena lelah menunggu. Aku tidak lagi bertanya. Bukan pada Roni. Bukan pada Dinda. Bukan juga pada diriku sendiri. Aku hanya… berhenti. Perjalanan pulang dari Bandung berlangsung tanpa banyak kata.
Di depan tawa masih ada. Dinda bercerita. Kakak menanggapi. Roni sesekali ikut. Seperti biasa. Seperti tidak ada yang berubah. Dan mungkin memang tidak ada yang berubah. Hanya aku yang akhirnya melihatnya dengan jelas.
Aku duduk di belakang. Tidak lagi memperhatikan. Tidak lagi mendengarkan. Bukan karena tidak ingin tapi karena tidak ada lagi yang perlu didengar. Semua sudah cukup jelas. Aku menatap ke luar jendela. Lampu kota bergerak cepat. Cahaya datang dan pergi. Seperti orang-orang dalam hidupku. Singgah. Lalu hilang. Tanpa benar-benar tinggal.
Sampai di rumah, semua kembali seperti semula. Kakak langsung masuk. Dinda menghilang ke kamar. Roni berhenti sebentar di ruang tamu. Seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku melewatinya. Tanpa menoleh. Tanpa berhenti. Aku tidak merasa bersalah. Malam itu, aku tidak keluar kamar. Lampu dimatikan. Aku duduk di lantai. Bersandar pada dinding. Gelap. Tapi justru lebih jujur. Tidak ada yang harus kulihat. Tidak ada yang harus kupahami. Hanya aku dan semua yang akhirnya berani muncul.
Aku menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan.
Sudah selesai.
Kalimat itu muncul begitu saja. Bukan keputusan. Tapi kesadaran. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya berubah. Mungkin sejak pertama kali aku melihat cara mereka saling memahami tanpa perlu menjelaskan. Atau sejak aku menyadari aku selalu berada di luar lingkaran itu.
Aku menutup mata. Tidak ada air mata. Aneh. Padahal sebelumnya aku bisa menangis hanya karena satu tatapan. Sekarang tidak ada yang tersisa. Seperti sesuatu di dalamku sudah habis.
Hari-hari berikutnya berjalan datar. Aku tetap ikut makan bersama. Tetap duduk di ruang yang sama. Tetap berada di antara mereka. Tapi tidak lagi bersama mereka.
Percakapan berjalan. Aku menjawab jika ditanya. Seperlunya. Tidak lebih.
“Kinanti, nanti sore ikut kita ya?” kata Kakak.
Aku menggeleng pelan.
“Nggak, Kak. Capek.”
Jawaban sederhana tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang benar-benar peduli. Dan itu tidak lagi menyakitkan. Hanya… biasa. Aku mulai lebih sering sendiri. Duduk di teras. Menatap jalan. Atau hanya berjalan tanpa tujuan di sekitar rumah. Orang-orang lewat. Tidak mengenalku. Itu terasa nyaman. Tidak ada yang menuntut. Tidak ada yang mengharapkan. Aku hanya… ada. Tanpa peran. Tanpa posisi. Tanpa harus menjadi apa pun.
Suatu sore, aku duduk di teras seperti biasa. Langit mulai berubah warna. Angin berhembus pelan. Langkah kaki mendekat. Aku tahu itu siapa. Tapi aku tidak menoleh.
“Kinanti.”
Suara Roni.
Aku tetap diam.
Ia duduk di sampingku sangat dekat. Tapi aku tidak bergeser. Dan juga tidak mendekat.
“Kamu kenapa sih?”
Pertanyaan itu kembali tapi kali ini terdengar berbeda. Bukan penasaran. Tapi… gelisah.
Aku tersenyum kecil.
“Kenapa harus kenapa?”
Ia menghela napas.