Ada perbedaan antara pergi dan ditinggalkan. Pergi punya arah. Ditinggalkan tidak punya apa-apa selain sisa. Aku baru benar-benar mengerti itu hari ini.
Pagi itu dimulai seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang terasa berbeda. Aku bangun, keluar kamar, duduk di meja makan. Kakak sudah ada di sana. Dinda juga. Mereka sedang berbicara. Pelan. Begitu melihatku mereka berhenti. Seperti biasa.
Aku duduk.
“Mau teh?” tanya Kakak.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada yang menyebut apa pun. Tidak ada yang menjelaskan apa pun. Dan aku tidak lagi bertanya. Aku baru sadar sesuatu ketika melihat jam. Sudah hampir siang. Tapi rumah terasa… terlalu sepi. Aku menoleh ke ruang tamu. Kosong. Tidak ada tas. Tidak ada sepatu tambahan. Aku mengernyit.
“Yang lain ke mana?” tanyaku.
Kakak menoleh.
“Oh… keluar.”
Jawaban singkat.
“Ke mana?”
“Sebentar kok.”
Sebentar.
Kata yang paling sering dipakai untuk sesuatu yang tidak ingin dijelaskan.
Aku mengangguk.
“Roni?”
Kakak tidak langsung menjawab.
“Pergi juga.”
Aku menunduk dan mengangguk lagi.
“Iya.”
Tidak ada yang aneh.
Seharusnya.