Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #17

Makan yang Penuh Tanda Tanya

Ada perhatian yang datang bukan karena peduli tapi karena merasa bersalah. Masalahnya kadang keduanya terlihat sama. Dan aku baru belajar membedakannya. Aku tidak keluar kamar sampai malam. Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin menghindar. Aku hanya… tidak ingin berada di tempat yang sama dengan mereka. Untuk sementara perutku sebenarnya lapar.Tapi rasa itu tertahan oleh sesuatu yang lain yang lebih berat. 

Tidak ada yang harus kupahami di sini. Tidak ada yang harus kuhadapi. Hingga ketukan itu datang lagi. Pelan.

“Kinanti.”

Suara Roni.

Aku membuka mata tidak menjawab.

“Kinanti, buka sebentar.”

Nada suaranya berbeda lebih hati-hati. Seperti seseorang yang takut ditolak.

Aku berdiri pelan mendekat ke pintu. Tanganku di gagang. Diam beberapa detik. Lalu kubuka.

Roni berdiri di depan. Tangannya membawa nampan. Aku menatapnya.

“Ini apa?”

“Makan.”

Jawaban sederhana.

Tapi justru itu yang membuatku diam.

“Kenapa?”

Ia mengernyit.

“Kenapa apa?”

“Kenapa dibawain?”

Ia terdiam sejenak.

“Kamu belum makan.”

Aku tersenyum tipis.

“Dari mana tahu?”

Ia tidak langsung menjawab.

“Kelihatan.”

Aku mengangguk.

“Kelihatan… atau kamu perhatiin?”

Pertanyaan itu tidak keras.

“Aku… lihat kamu nggak keluar dari tadi.”

Aku menyilangkan tangan.

“Terus?”

“Aku pikir kamu capek.”

Aku tertawa kecil.

“Capek apa?”

Ia tidak menjawab lagi.

Aku menatap nampan di tangannya. Aroma makanan itu hangat. Menggoda. Dan anehnya terasa asing.

“Masuk,” katanya pelan.

Aku mundur sedikit memberi jalan.

Ia masuk. Meletakkan nampan di meja kecil. Aku tetap berdiri. Tidak mendekat.

“Makan dulu,” katanya.

Aku tidak bergerak.

“Takut dingin.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu peduli?”

Lihat selengkapnya