Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #18

Malam Terlalu Tenang

Ada malam yang sunyi bukan karena tidak ada suara tapi karena semua orang memilih untuk diam. Dan diam kadang lebih menakutkan daripada kebenaran. Malam itu terasa berbeda. Tidak ada suara televisi. Tidak ada tawa Dinda. Tidak ada percakapan ringan di ruang tamu. Rumah terlalu tenang.

Aku duduk di teras seperti biasa. Tapi kali ini bahkan angin pun terasa pelan. Seolah tidak ingin mengganggu sesuatu yang sedang ditahan. Aku memeluk lutut. Menatap jalan yang kosong. Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang datang. Dan anehnya aku tidak menunggu siapa pun.

 Langkah kaki terdengar dari dalam rumah pelan. Terukur.Aku tidak menoleh. Aku sudah tahu siapa.

“Kinanti.”

Roni.

Ia berhenti di belakangku tidak langsung duduk. Seperti sedang memutuskan sesuatu. Aku tetap diam.

“Boleh duduk?”

Aku mengangguk kecil.

Ia duduk tidak terlalu dekat. Tidak juga jauh. Jarak yang aman untuk seseorang yang tidak ingin terlalu jujur.

 Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang memulai. Aku tidak berniat membuka apa pun.

“Aku nggak suka kamu kayak gini.”

Akhirnya ia bicara.

Aku tersenyum tipis.

“Kayak gimana?”

“Dingin.”

Aku mengangguk.

“Belajar.”

Ia menoleh.

“Dari siapa?”

Aku menatap ke depan.

“Dari orang-orang yang ngajarin.”

Ia menghela napas pelan.

“Aku serius, Kinanti.”

“Aku juga.”

Jawaban cepat tanpa emosi.

“Aku capek kalau kamu terus kayak gini.”

Aku tertawa kecil.

“Capek?”

Aku menoleh menatapnya lurus.

“Kamu baru mulai.”

“Aku udah dari awal.”

Kalimat itu tidak keras tapi cukup untuk membuat udara di antara kami berubah.

Roni menunduk.

Lihat selengkapnya