Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #20

Aku Bukan Dia

Ada luka yang tidak berasal dari kehilangan tapi dari kesadaran bahwa dirimu tidak pernah benar-benar dilihat. Aku tidak kehilangan siapa pun. Aku hanya menemukan kenyataan bahwa aku tidak pernah benar-benar ada. Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai kamar itu. Waktu terasa seperti berhenti. Atau mungkin aku yang berhenti bergerak di dalamnya.

Air mata sudah tidak mengalir lagi bukan karena sudah kering. Tapi karena tidak ada lagi yang tersisa untuk dikeluarkan. Hanya rasa berat. Dan sesuatu yang perlahan berubah menjadi… panas. Bukan sedih lagi. Bukan kecewa tapi sesuatu yang lebih tajam. Lebih hidup. 

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tapi tetap saja rasa itu tidak pergi. Ia justru semakin jelas. Semakin terarah. Aku berdiri. Langkahku pelan. Menuju cermin. Aku menatap diriku sendiri. Wajah yang selama ini kubawa. Wajah yang kupikir… milikku. Dan tiba-tiba semuanya terasa asing.

“Ini…” bisikku. “…yang mereka lihat?”

Aku mendekat lebih dekat. Seolah mencari sesuatu. Bukan diriku tapi dia.

Alia, perempuan itu. Entah bagaimana hidup di dalam cara orang memandangku.

Aku tertawa kecil.

“Hebat…”

Aku mengangkat tangan menyentuh pipiku sendiri.

“Jadi selama ini…”

aku berhenti.

“…aku cuma bayangan.”

Kalimat itu jatuh, aku tidak ingin menangis karena yang tersisa bukan kesedihan tapi penolakan Aku bukan dia. Aku bukan siapa pun yang mereka cari. Aku bukan pengganti. Dan aku tidak akan pernah jadi.

Pintu kamarku terbuka tiba-tiba tanpa ketukan. Tanpa izin.

Aku menoleh.

Dinda berdiri di sana tapi tidak seperti biasanya. Tatapannya tidak lagi disembunyikan. Dingin.

Tajam.

“Kamu sudah tahu.”

Bukan pertanyaan tapi pernyataan.

Aku tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Ia masuk dan menutup pintu di belakangnya seperti seseorang yang siap menyelesaikan sesuatu.

“Atau belum semuanya?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu.

“Masih ada bagian yang mau kamu tambah?”

Ia tersenyum kecil tapi bukan senyum hangat. Senyum yang… lelah.

“Selalu.”

Kami berdiri saling berhadapan tidak ada yang mengalah. Tidak ada yang mundur. Dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa lebih kecil darinya.

“Kenapa?” tanyaku langsung.

Tanpa hiasan tanpa basa-basi.

Dinda menatapku lama seperti mempertimbangkan sesuatu. Ia menghela napas.

“Karena aku nggak siap kehilangan dia dua kali.”

Kalimat itu tidak tajam, tidak dingin. Tapi justru yang paling menyakitkan. Aku tertawa kecil.

“Jadi kamu pilih… ganti?”

Ia menggeleng.

“Bukan ganti.”

“Terus apa?”

Ia terdiam beberapa detik.

“Mempertahankan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dengan aku?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Lihat selengkapnya