Ada perjalanan yang membawa kita pergi dan ada perjalanan yang membawa kita kembali tapi tidak pernah ke tempat yang sama. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Tapi aku tahu aku tidak benar-benar kembali.
Terminal itu ramai. Orang-orang datang dan pergi. Tas diseret. Suara kendaraan bercampur dengan teriakan kecil para penjual. Semua bergerak. Semua punya tujuan kecuali aku. Aku berdiri di tengah keramaian itu membawa satu tas kecil dan sesuatu yang jauh lebih berat di dalam dada.
Aku tidak menangis, tidak lagi ada air mata seperti sudah selesai bekerja. Sekarang yang tersisa adalah rasa kosong yang anehnya… tenang. Bukan damai. Tapi tidak lagi berisik.
Aku melangkah menuju kursi tunggu. Duduk dan menatap ke depan. Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang tertawa. Ada yang tergesa. Ada yang tampak lelah. Semua memiliki cerita masing-masing. Aku merasa ceritaku tidak harus menjadi bagian dari siapa pun.
Perjalanan panjang dimulai lagi. Kali ini aku sendirian. Tidak ada Kakak. Tidak ada Dinda. Tidak ada Roni. Hanya aku dan pikiranku sendiri.
Bus berjalan pelan keluar dari kota. Meninggalkan tempat yang selama ini terasa… asing. Aku menyandarkan kepala ke jendela. Menatap ke luar. Bangunan perlahan berubah menjadi jalan panjang. Lampu kota berganti dengan gelap. Dan di dalam gelap itu aku mulai melihat diriku sendiri. Tanpa bayangan. Tanpa perbandingan. Tanpa wajah lain yang harus kutiru.
Aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan.
“Udah selesai,” bisikku.
Bukan pada siapa-siapa tapi pada diriku sendiri.
Perjalanan terasa lama. Lebih lama dari saat aku datang. Atau mungkin aku yang berubah. Dulu aku datang dengan rasa penasaran. Harapan kecil. Dan sesuatu yang tidak berani kuakui. Sekarang aku pulang dengan kenyataan. Dan itu jauh lebih berat.
Di tengah perjalanan, aku tertidur. Bukan karena nyaman. Tapi karena lelah. Dan dalam tidur itu aku bermimpi. Bukan mimpi yang jelas. Hanya potongan-potongan. Wajah. Tawa. Suara. Dan satu kalimat yang terus berulang.
“Aku bukan dia.”
Aku terbangun. Napasku terengah. Jantung berdegup cepat. Aku menatap ke sekitar. Semua orang masih di tempatnya. Tidak ada yang berubah. Kecuali aku. Aku memejamkan mata lagi. Tapi tidak tidur. Aku hanya duduk dengan kesadaran yang semakin jelas. Bahwa apa pun yang terjadi aku tidak bisa kembali menjadi orang yang sama.
Rumah.
Akhirnya.
Aku berdiri di depan pintu.
Diam.
Beberapa detik.