Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #22

Yang Tidak Pergi

Tidak semua yang kita tinggalkan akan benar-benar hilang. Ada yang tetap tinggal bukan di tempat, tapi di dalam diri. Suatu hari ia akan datang kembali. Bukan untuk dimiliki, tapi untuk diselesaikan. Sore itu biasa saja. Langit tidak terlalu cerah. Tidak juga mendung. Seperti hari-hari yang tidak ingin terlalu diperhatikan. Aku duduk di teras rumah. Buku kecil di pangkuan. Pulpen di tangan. Tapi tidak menulis. Hanya membuka halaman dan menatap kosong.

Beberapa hari ini aku mulai terbiasa dengan sunyi. Tidak lagi terasa berat. Tidak lagi menekan. Hanya… ada. Dan anehnya aku mulai menyukainya.

“Kinanti.”

Suara Mak dari dalam.

“Iya, Mak?”

“Ada tamu.”

Aku mengernyit.

“Siapa?”

“Laki-laki.”

Tanganku berhenti. Pulpen jatuh pelan ke pangkuan. Tidak banyak orang yang tahu rumah ini. Dan entah kenapa aku sudah tahu. Aku menutup buku. Menarik napas dalam. Lalu berdiri. Langkahku pelan. Tapi pasti. Aku masuk ke dalam rumah. Dan di ruang tamu ia sudah duduk di sana.

Roni.

 Waktu seperti berhenti atau mungkin aku yang berhenti sebentar. Ia berdiri saat melihatku. Wajahnya sama. Tapi tidak benar-benar sama. Lebih lelah. Lebih… jujur. Aku berdiri di ambang pintu. Tidak mendekat. Tidak juga menjauh. Hanya… melihat.

“Kinanti.”

Ia menyebut namaku seperti takut suaranya akan merusak sesuatu.

Aku mengangguk kecil.

“Duduk.”Suaraku datar.

Ia ragu sejenak lalu duduk kembali.

Aku masuk dan duduk di kursi yang berseberangan. Jarak di antara kami cukup. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Tempat yang aman untuk dua orang yang belum selesai.

Mak keluar dari dapur. Membawa dua gelas teh. Diletakkan di meja tanpa banyak bicara. Hanya menatapku sebentar lalu pergi lagi. Seolah memberi ruang. Dan mungkin ini memang harus diselesaikan.

Beberapa detik suasana hening. Tidak ada yang memulai. Aku menunggu. Kali ini aku ingin ia yang bicara. Dan ia tidak lari.

“Aku datang…”

Ia berhenti.

Menelan kata-katanya sendiri.

“Aku tahu,” jawabku pelan.

Ia mengangkat kepala dan menatapku.

“Aku nggak mau ganggu.”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi kamu tetap datang.”

Ia mengangguk.

“Iya.”

“Aku cuma… pengen lihat kamu.”

Kalimat itu sederhana tapi tidak lagi punya kekuatan seperti dulu.

Aku mengangguk kecil.

“Udah.”

Ia terdiam seperti tidak menyangka.

“Udah?” ulangnya.

Aku menatapnya.

“Iya.”

“Udah lihat.”

Dan aku melihatnya kehilangan arah.

“Aku juga pengen ngomong,” katanya.

Aku mengangguk.

“Silakan.”

Tidak ada penolakan, tidak ada emosi. Hanya ruang. Dan itu lebih berat dari penolakan.

“Aku salah.”

Lihat selengkapnya