Tidak semua yang selesai benar-benar berakhir. Ada yang tetap tinggal bukan sebagai luka yang terbuka, tapi sebagai sesuatu yang diam-diam mengubah cara kita melihat diri sendiri. Aku pikir semuanya sudah selesai. Ternyata aku baru saja memasuki bagian lain dari cerita ini. Bagian yang tidak melibatkan mereka tapi tetap tentang mereka.
Hari itu berjalan seperti biasa. Terlalu biasa. Aku bangun pagi. Membantu Mak di dapur. Menyapu halaman. Dan sesekali berhenti hanya untuk menarik napas. Tidak ada yang berubah di luar. Tapi di dalam aku tahu ada sesuatu yang belum benar-benar selesai. Bukan tentang Roni. Bukan tentang Dinda. Tapi tentang sesuatu yang mereka tinggalkan di dalam diriku. Dan itu tidak mudah dihilangkan.
Aku kembali ke kamar. Membuka tas yang kubawa dari sana. Aku belum benar-benar membongkarnya. Seperti ada bagian dari diriku yang sengaja menunda. Takut menemukan sesuatu. Atau mungkin takut tidak menemukan apa pun. Aku mengeluarkan pakaian. Melipatnya satu per satu. Pelan. Teratur. Seperti mencoba mengatur ulang sesuatu di dalam kepala. Lalu tanganku berhenti. Ada satu benda kecil di dasar tas. Bukan milikku. Aku yakin.
Aku mengangkatnya. Sebuah buku kecil. Tipis. Sampulnya sederhana. Warna pudar seperti sudah lama disimpan.
Aku mengernyit
“Apa ini…?”
Aku tidak ingat pernah membawanya.
Dan tiba-tiba sesuatu di dalam dadaku bergerak. Tapi cukup untuk membuatku sadar ini bukan kebetulan.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Buku itu masih di tanganku. Aku ragu untuk membukanya. Karena entah kenapa aku merasa begitu kubuka, semuanya akan berubah lagi. Dan aku baru saja belajar untuk tenang.
Aku menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya.
“Udah selesai,” bisikku.
Seolah meyakinkan diri sendiri tapi tanganku tetap gemetar. Dan akhirnya aku membuka halaman pertama.
Tulisan tangan.
Rapih.
Halus.
Dan anehnya terasa familiar.
Aku membaca pelan.
"Kalau suatu hari aku tidak ada, aku harap orang-orang tidak mencari aku di orang lain."
Jantungku berhenti. Hanya satu detik. Tapi cukup. Aku menelan ludah. Tanganku bergetar. Aku lanjut membaca.
"Karena itu akan menyakiti mereka… dan juga orang yang mereka jadikan pengganti."
Dunia terasa… terlalu diam.
Aku tidak bergerak. Tidak bernapas. Hanya membaca. Dan setiap kata seperti mengetuk sesuatu yang belum sempat sembuh.
"Aku tidak ingin ada yang menjadi aku."
Mataku mulai panas. Tapi bukan karena sedih. Lebih ke sesuatu yang akhirnya menemukan bentuknya.
"Karena menjadi aku saja sudah cukup berat."
Aku menutup buku itu. Cepat. Seolah kata-kata itu terlalu keras untuk dibiarkan lebih lama.
Aku menatap ke depan. Kosong. Tapi tidak benar-benar kosong. Ada sesuatu yang bergerak.
Kesadaran.
Tapi pasti.
“Alia…”