Ada luka yang tidak berdarah tapi mengubah cara kita menyebut diri sendiri. Dan sejak itu nama bukan lagi sekadar panggilan. Ia menjadi pertanyaan. Aku sedang belajar menjawabnya.
Malam tidak lagi sekadar gelap. Ia menjadi ruang. Tempat di mana semua yang tidak sempat dipikirkan akhirnya datang.
Aku duduk di kamar. Lampu sengaja tidak dinyalakan. Bukan karena takut. Tapi karena dalam gelap aku tidak perlu melihat apa pun. Termasuk diriku sendiri.
Buku itu masih di sampingku. Tidak kubuka lagi sejak tadi sore. Tapi keberadaannya cukup untuk membuat pikiranku tidak diam. Aku memejamkan mata. Dan aku mencoba mengingat semuanya. Bukan untuk menyiksa diri. Tapi untuk memahami.
Wajah-wajah itu datang. Satu per satu.
Kakak.
Dinda.
Roni.
Dan akhirnya wajah yang tidak pernah benar-benar kulihat
Alia.
Aku tidak tahu seperti apa dia. Tapi anehnya aku merasa mengenalnya. Bukan karena kami mirip. Tapi karena kami pernah ditempatkan dalam satu ruang yang sama. Ruang yang tidak adil. Ruang yang tidak kami pilih. Ruang di mana seseorang harus menjadi bayangan agar yang lain tetap hidup dalam ingatan.
Aku membuka mata. Napas terasa berat.
“Kalau kamu ada…”bisikku pelan.
“…apa kamu marah?”
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak. Tapi pertanyaan itu tidak benar-benar membutuhkan jawaban. Ia hanya perlu diakui.
Aku berdiri. Melangkah ke cermin. Sama seperti beberapa hari lalu. Tapi kali ini aku tidak mendekat. Aku berdiri agak jauh. Seolah memberi jarak antara aku dan bayangan itu.
Aku menatap diriku lama. Aku tidak mencari siapa pun di sana.
Tidak Alia.
Tidak versi “yang diinginkan orang lain”.