Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #25

Langkah yang Tidak Diikuti Siapa Pun

Tidak semua perjalanan membutuhkan teman. Ada langkah-langkah tertentu yang harus diambil sendirian. Bukan karena tidak ada yang mau menemani, tapi karena hanya dalam kesendirian kita benar-benar tahu ke mana kita ingin pergi.

Pagi datang tanpa suara. Tidak ada yang berubah di luar matahari tetap terbit dari arah yang sama, angin tetap menyusup lewat celah jendela, dan suara ayam masih menjadi pengingat bahwa hari baru dimulai. Tapi di dalam diriku ada sesuatu yang bergeser. Bukan perubahan yang besar. Tidak dramatis. Tidak juga terasa seperti kemenangan. Hanya… berbeda.

Aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena harus. Tapi karena ingin. Itu hal kecil. Tapi untuk pertama kalinya aku merasa ada sesuatu yang benar-benar kupilih sendiri.

Aku membuka jendela. Udara pagi masuk. Segar. Jujur. Tidak menuntut apa-apa. Aku menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Dan di antara napas itu aku menyadari sesuatu. Hari ini aku tidak ingin mengingat siapa pun. Tidak Roni. Tidak Dinda. Bukan karena mereka tidak penting. Tapi karena untuk hari ini aku ingin menjadi seseorang yang tidak dibentuk oleh siapa pun selain dirinya sendiri.

Aku berjalan keluar rumah. Mak masih di dapur. Seperti biasa.

 “Pagi, Mak.”

Ia menoleh dan sedikit terkejut.

 “Kok cepat bangun?”

Aku tersenyum kecil.

 “Pengen jalan.”

Mak mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Dan aku bersyukur untuk itu karena ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan cukup dilakukan.

Jalan kampung masih sepi. Beberapa orang lewat dengan langkah pelan. Ada yang membawa keranjang. Ada yang menyapu halaman. Semua berjalan dengan ritme mereka sendiri. Aku tidak merasa harus menyesuaikan diri dengan siapa pun.

Aku berjalan tanpa tujuan. Tidak terburu-buru. Tidak juga berhenti terlalu lama. Hanya… berjalan. Langkah demi langkah. Dan di setiap langkah aku mencoba merasakan sesuatu yang sederhana: keberadaan. Bahwa aku ada. Bahwa aku bergerak. Bahwa aku hidup tanpa harus menjadi siapa pun.

Aku sampai di sebuah jalan kecil yang jarang kulewati. Ada pohon besar di ujungnya. Rindang. Tua. Seperti sudah lama berdiri di sana, menyaksikan banyak orang datang dan pergi.

Aku duduk di bawahnya. Tanahnya sedikit lembap. Tapi tidak mengganggu. Aku bersandar pada batang pohon itu. Menatap ke depan. Kosong. Dan di dalam kekosongan itu aku mulai berbicara pada diriku sendiri. Bukan dengan suara. Tapi dengan kejujuran.

“Apa yang kamu mau?”

Pertanyaan itu muncul tanpa tekanan. Tanpa tuntutan untuk langsung menjawab.

Aku memejamkan mata. Mencoba mendengar bukan apa yang orang lain inginkan dariku, tapi apa yang benar-benar datang dari dalam. Jawabannya tidak kabur. Tidak juga rumit. Aku hanya ingin…tenang.

Lihat selengkapnya