Tidak semua ujian datang dalam bentuk luka. Ada yang datang sebagai kesempatan dan justru itu yang lebih sulit ditolak. Karena tidak semua yang terlihat baik benar-benar baik untuk diri kita. Dan tidak semua yang terasa benar mudah untuk dipertahankan.
Pagi itu berbeda. Bukan karena suasananya. Tapi karena ada sesuatu yang menunggu. Aku belum tahu apa tapi rasanya seperti ada pintu yang akan dibuka. Dan aku tidak yakin apakah aku siap untuk masuk.
“Kinanti.”
Suara Mak memanggil dari ruang depan.
“Iya, Mak?”
“Ada orang dari Dinas Pendidikan.”
Langkahku terhenti.
Dinas.
Aku melangkah keluar. Seorang perempuan berdiri di ruang tamu. Rapi. Membawa map. Senyumnya sopan.
“Kinanti, ya?”
Aku mengangguk.
“Saya dari pihak Dinas. Kemarin karena libur sekolah kami tidak sempat bertemu dengan Bu Kinan.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya, Bu. Waktu itu saya juga ke luar kota.”
Ia mengangguk.
“Kami mau menawarkan sesuatu.”
Aku mengernyit.
“Menawarkan?”
Ia membuka map. Mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Dinas Pendidikan sudah mendata beberapa orang guru yang pernah menulis. Dari sekian banyak guru Ibu terpilih. Melihat tulisan yang pernah terbit tulisan ibu sangat menarik dan konsisten. Guru-guru lain juga merekomendasikan.”
Aku diam. Tidak langsung merasa bangga. Lebih ke… waspada.
“Dinas sedang membuka program pembinaan khusus untuk lomba nasional.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Lomba.
Nasional.
Dua kata yang dulu mungkin akan langsung membuatku bersemangat.
Tapi sekarang aku tidak langsung bereaksi.
“Kami ingin Ibu ikut.”
Kalimat itu menggantung di udara. Seperti sesuatu yang seharusnya mudah dijawab tapi tidak. Aku menatap kertas di tangannya. Tulisan-tulisan rapi.
Persyaratan.
Jadwal.
Target.
Dan tanpa sadar aku membaca satu kata yang terasa berat.
“Prestasi.”
“Aku pikir dulu, Bu.”
Jawabanku pelan. Perempuan itu tersenyum.
“Tentu. Tapi waktunya tidak lama.”
Aku mengangguk.
Ia berpamitan. Dan rumah kembali sepi. Aku duduk di kursi yang sama.