Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #27

Diukur

Ada saatnya kita tidak lagi bertanya siapa diri kita karena dunia mulai menjawabnya untuk kita. Dengan angka. Dengan perbandingan. Dengan standar yang tidak kita buat tapi harus kita hadapi. Dan di situlah kita diuji. Bukan seberapa hebat kita tapi seberapa kuat kita bertahan menjadi diri sendiri.

Hari pertama program itu dimulai. Aku datang lebih awal. Bukan karena gugup. Tapi karena ingin punya waktu untuk menyesuaikan diri. Ruang itu tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk membuatku merasa… diawasi.

Meja-meja tersusun rapi. Kursi menghadap ke depan. Papan tulis bersih. Dan di sudut ruangan ada papan kecil dengan tulisan:

 “Pembinaan Lomba Nasional.”

Aku duduk di kursi paling pinggir. Bukan untuk bersembunyi. Tapi untuk mengamati. Langkah demi langkah orang-orang mulai masuk. Wajah-wajah baru. Beberapa terlihat percaya diri. Beberapa terlihat santai. Dan beberapa seperti aku masih mencoba membaca suasana.

Aku menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan.

 “Tenang.”

Bisikku pada diri sendiri.

“Ini kursi kosong?”

Suara di sampingku.

Aku menoleh. Seorang perempuan. Tinggi. Tatapannya tajam. Tapi tidak dingin.

Aku mengangguk.

 “Iya.”

Ia duduk. Menyimpan tasnya. Tanpa banyak bicara. Beberapa detik hening. Lalu ia menoleh.

 “Kamu Kinanti, ya?”

Aku mengernyit.

 “Kok tahu?”

Ia tersenyum tipis.

“Namamu disebut waktu seleksi.”

Aku mengangguk.

 “Oh.”

Ia mengulurkan tangan.

 “Aku Sera.”

Aku menjabatnya.

 “Kinanti.”

 “Udah siap?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi aku tahu itu bukan sekadar basa-basi.

Aku tersenyum kecil.

 “Belum.”

Sera tertawa pelan.

 “Bagus.”

Aku mengernyit.

 “Kenapa?”

 “Yang terlalu siap biasanya malah kaku.”

Aku diam.

Mencoba memahami. Aku merasa aku tidak sendirian di ruang ini. Instruktur masuk. Semua langsung diam.

 “Selamat pagi.”

 “Pagi, Bu.”

Lihat selengkapnya