Tidak semua kehancuran datang dengan suara keras. Ada yang dimulai dari retakan kecil yang hampir tidak terlihat, tapi perlahan merambat, hingga suatu saat kita sadar, kita tidak lagi utuh. Dan yang paling menakutkan kita tidak tahu kapan itu dimulai.
Hari itu dimulai seperti biasa. Aku datang ke kelas. Duduk di tempat yang sama. Menyapa Sera dengan anggukan kecil.
Semuanya terlihat normal. Tapi di dalam aku tahu ada sesuatu yang berubah. Bukan sesuatu yang besar. Hanya…tidak setenang sebelumnya.
Aku membuka buku. Melihat catatan-catatan yang kutulis kemarin. Tulisan-tulisan yang dulu terasa jujur sekarang terasa…kurang.
Aku mengernyit.
“Kenapa ya…”
Bisikku pelan.
Bukan karena tulisannya jelek. Tapi karena tiba-tiba aku mulai membandingkan dengan yang lain. Dengan yang lebih “bagus”. Lebih “rapi”. Lebih “diterima”. Dan tanpa sadar aku mulai merasa tertinggal.
“Kinanti.”
Suara instruktur memanggil.
Aku menoleh.
“Iya, Bu?”
“Coba kamu baca tulisanmu kemarin.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku berdiri membawa kertas itu.
Langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Aku berdiri di depan. Menatap tulisan itu.
Beberapa detik. Lalu mulai membaca.
Suaraku pelan. Tidak gemetar. Tapi juga tidak sekuat biasanya.
Aku selesai.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada reaksi. Hanya diam.
Instruktur itu menatapku.
“Masih sama.”
Kalimatnya singkat.
Aku mengernyit.
“Maksudnya, Bu?”
“Masih kuat… tapi tidak berkembang.”
Kalimat itu tidak keras tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalamku retak.
“Kamu seperti berhenti di satu titik.”
Aku tidak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Coba keluar sedikit dari zona nyamanmu.”
Zona nyaman.
Dua kata itu mengganggu karena selama ini aku merasa aku justru sedang berjuang keluar dari sesuatu.
Bukan nyaman. Tapi sekarang apa yang kulakukan disebut…nyaman?
Aku duduk kembali.
Kertas itu masih di tanganku tapi aku tidak melihatnya lagi.
Pikiranku penuh.