Tidak semua kehilangan terasa seperti dipaksa. Ada yang datang sebagai pilihan yang kita ambil pelan-pelan, tanpa sadar, hingga suatu saat kita tidak lagi mengenali siapa yang mengambil keputusan itu. Dan yang tersisa bukan diri kita. Tapi sesuatu yang lebih mudah diterima. Lebih rapi. Lebih… aman.
Hari itu aku datang dengan niat yang berbeda. Bukan untuk bertahan. Bukan untuk menjaga. Tapi untuk mencoba. Mencoba menjadi…sedikit berbeda. Tidak sepenuhnya. Hanya sedikit. Supaya lebih “cukup”.
Aku duduk di tempat yang sama. Buku terbuka. Pulpen di tangan. Tapi kali ini aku tidak langsung menulis. Aku berpikir. Tentang apa yang diinginkan. Tentang apa yang “bagus”. Tentang bagaimana cara menulis yang membuat orang mengangguk.
Bukan berpikir. Bukan diam. Bukan ragu.
Aku menarik napas dalam. Lalu mulai menulis. Tulisan itu mengalir cepat. Lebih cepat dari biasanya.
Lebih rapi.
Lebih… terarah.
Aku tidak berhenti.
Tidak mempertanyakan.
Tidak juga mendengar suara kecil di dalam kepala.
Aku hanya mengikuti pola yang sudah ada. Yang sudah terbukti. Dan aku merasa mudah.
Tidak ada konflik. Tidak ada tarik-menarik. Tidak ada keraguan. Semua terasa…lancar. Dan itu justru membuatku sedikit takut. Tapi aku tidak berhenti.
“Waktu habis.”
Aku meletakkan pulpen. Menatap kertas itu. Tulisan yang rapi. Struktur yang jelas. Kalimat yang “indah”. Aku tidak merasa ragu. Aku merasa ini bagus. Benar-benar bagus.
Hasil dibacakan. Nama-nama dipanggil. Komentar diberikan. Dan ketika namaku disebut aku berdiri. Lebih siap dari sebelumnya.
Instruktur itu membaca. Lebih lama dari biasanya. Lalu menatapku.
“Ini.”
Ia mengangkat kertas itu sedikit.
“Lebih matang.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Lebih terstruktur.”
Aku mengangguk kecil.
“Lebih… bisa diterima.”
Kalimat itu seharusnya terasa seperti pujian. Dan memang semua orang terlihat mengangguk. Beberapa bahkan menatapku dengan cara berbeda. Seperti akhirnya melihatku. Tapi di dalam ada sesuatu yang tidak ikut bergerak.
Kosong.
“Bagus, Kinanti.”
Aku tersenyum.
“Iya, Bu.”
Dan aku duduk kembali.“
“Kamu berubah.” Sera berkata pelan.
Aku menoleh.
“Iya.”